12 Desember 2014

Asal Usul Kota Banyuwangi, Jawa Timur

Alkisah, zaman dahulu di daerah ujung timur Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar. Kerajaan tersebut diperintah seorang Raja adil bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putra gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu di hutan.
Asal Usul Kota Banyuwangi, Jawa Timur

Suatu pagi, Raden Banterang hendak pergi berburu ke hutan. 

Ia memerintahkan para pembantunya untuk menyiapkan peralatan. 

“Aku hendak pergi berburu ke hutan. Kalian cepat siapkan alat berburu untukku.” kata Raden Banterang kepada para pembantunya. 

Para pembantunya segera menyiapkan peralatan berburu untuk Raden Banterang. 

Tidak lama kemudian peralatan berburu telah siap. 

Kemudian Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan.

Di tengah hutan mereka berjalan beriringan mencari binatang buruan. 

Tiba-tiba saja Raden Banterang melihat seekor kijang melintas di depannya. 

Ia segera mengejar kijang seorang diri. 

Si Kijang pun segera lari masuk ke dalam hutan. 

Akhirnya Raden Banterang mengejar si kijang hingga masuk jauh ke hutan. 

Ia terpisah jauh dari para pengawalnya.

Raden Banterang Bertemu Surati

Jauh di dalam hutan, Raden Banterang kehilangan jejak si kijang, binatang buruannya. 

“Kemana kijang tadi? Cepat sekali larinya kijang itu. Akan Aku cari terus sampai dapat.” kata Raden Banterang. 

Ia kemudian menerobos semak belukar pepohonan hutan. 

Namun, si kijang tidak juga ditemukan. 

Akhirnya Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. 

“Airnya sangat jernih juga segar rasanya.” 

Raden Banterang meminum air sungai itu, sampai terasa hilang dahaganya. 

Kemudian Ia pergi meninggalkan sungai. 

Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Ia dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis cantik jelita.

“Loh anda siapa? Kenapa ada seorang wanita di tengah hutan? Apa anda manusia?” tanya Raden Banterang pada gadis tersebut.

“Iya Saya manusia, bukan hantu penunggu hutan. Nama saya Surati dari Kerajaan Klungkung. Ayah saya gugur dalam perang mempertahankan mahkota kerajaan. Saya sendiri tengah berusaha menyelamatkan diri dari serangan musuh ke hutan. Maaf anda siapa ya?” kata si gadis sambil tersenyum.

Raden Banterang terkejut mendengar penuturan si gadis cantik. 

Setelah memperkenalkan dirinya, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. 

Singkat cerita, mereka berdua ternyata berjodoh lalu menikah membangun keluarga bahagia di istana.

Surati Bertemu Rupaksa

Pada suatu hari, Surati tengah berjalan-jalan sendirian ke luar istana. 

Tiba-tiba datang seorang lelaki berpakaian compang-camping mendekatinya. 

“Surati...Surati... Aku kakakmu!” teriak lelaki tersebut.

Surati kemudian mengamati baik-baik wajah lelaki itu. 

Ia akhirnya tersadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. 

Kakaknya mengatakan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk mengajak adiknya membalas dendam, karena Raden Banterang adalah orang yang telah membunuh ayahanda mereka. 

“Surati...dengarkan Aku baik-baik. Suamimu, Raden Banterang adalah pembunuh ayahanda kita. Kau harus bantu aku untuk membunuhnya.” kata Rupaksa.

“Maafkan aku Rupaksa. Aku tidak bisa membunuh suamiku sendiri. Aku berhutang budi kepada suamiku.” kata Surati. 

Surati menceritakan bahwa ia mau menjadi istri Raden Banterang karena telah berhutang budi. 

Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. 

Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya, namun demikian ia tidak memaksa Surati. 

Kemudian Ia memberikan sebuah benda kepada Surati berupa sebuah ikat kepala. 

“Ambillah ikat kepala ini. Kau simpan di bawah tempat tidurmu.” pesan Rupaksa.

Rupaksa Menemui Raden Banterang

Tidak lama setelah bertemu Surati, Rupaksa kemudian pergi ke hutan mencari Raden Banterang. 

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya, Rupaksa, tidak diketahui oleh Raden Banterang. 

Saat itu Raden Banterang sedang berburu di hutan. 

Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba Ia dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. 

“Maaf Tuanku..., Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam. Istri Tuan, Surati, merencanakan pembunuhan kepada Tuan. Jika Tuan tidak percaya, coba Tuan periksa di bawah bantal Surati pasti ada sebuah ikat kepala. Ikat kepala tersebut milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan.” kata Rupaksa. 

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Rupaksa kemudian pergi menghilang.

Raden Banterang sangat heran dengan kemunculan lelaki misterius itu. 

Ia pun segera pulang ke istana. 

Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraduan istrinya. 

Kebetulan istrinya Surati ada di peraduannya. 

Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang ditemuinya di hutan. 

“Ah...ternyata benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini buktinya! Kau ternyata berencana hendak membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini! Begitukah balasanmu padaku?” teriak Raden Banterang marah.

”Jangan asal menuduh Kakanda. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. 

Namun Raden Banterang tak percaya dengan jawaban istrinya. 

Sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya. 

Ia berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai.

Asal Usul Kota Banyuwangi

Setibanya di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. 

Begitu pula Surati, Ia menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti dijelaskan suaminya. 

“Lelaki berpakaian compang-camping itu adalah Rupaksa, kakak kandung Adinda. Dialah pemberi ikat kepala kepada Adinda. Tolong Kakanda percayalah. Adinda tidak berniat membunuh Kakanda. Rupaksa telah menjebak kita. Rupaksalah yang ingin membunuh Kakanda.” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya.

Meski telah dijelaskan oleh Surati, namun Raden Banterang tetap tidak mempercayai ucapan istrinya. 

Ia masih merasa yakin bahwa istrinya akan membunuh dirinya.

Akhirnya Surati berkata, “Baiklah Kakanda. Dengarkanlah! Adinda akan melompat ke dalam sungai. Jika setelah Adinda melompat, air sungai berubah menjadi bening harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh berbau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. 

Raden Banterang tidak perduli malah kemudian menghunus keris ke tubuh Surati. 

Surati menghindar kemudian dengan cepat melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tak lama setelah Surati melompat ke dalam sungai, terjadi sebuah keajaiban. 

Bau harum merebak dari arah sungai. 

Akhirnya Raden Banterang sadar bahwa istrinya tidak berniat membunuhnya. 

“Ternyata Aku salah! Istriku tidak berniat mencelakaiku! Air sungai menjadi harum baunya! Aku sangat menyesal.” Raden Banterang meratapi kematian istrinya. 

Ia menyesali kebodohannya. 

Namun semuanya sudah terlambat, nasi telah menjadi bubur.

Semenjak kejadian itu, sungai tersebut menjadi harum baunya. 

Dalam bahasa Jawa disebut banyu wangi. 

Banyu artinya air sedangkan wangi artinya harum. 

Sungai banyu wangi kemudian menjadi asal usul kota Banyuwangi

Demikianlah sebuah cerita daerah Jawa Timur mengenai asal usul kota Banyuwangi. 

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.

    1 komentar: