26 Desember 2013

Cerita Rakyat Riau Bawang Merah & Bawang Putih

Cerita Rakyat Riau Bawang Merah & Bawang Putih

🌸 Awal Mula Kisah Dua Saudari

Konon, pada zaman dahulu kala di sebuah desa yang asri, di Riau, hiduplah seorang gadis manis bernama Bawang Putih. Ia tinggal bersama ayah tercintanya. Ibunda Bawang Putih telah lama berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa setelah berjuang melawan sakit yang berat.

Tidak jauh dari kediaman mereka, tinggallah seorang janda yang mempunyai anak perempuan bernama Bawang Merah. Sejak kepergian ibunda Bawang Putih, sang janda dan Bawang Merah sering datang bertamu. Karena sering berjumpa, benih-benih cinta pun tumbuh di hati ayah Bawang Putih dan ibu Bawang Merah.

Singkat cerita, keduanya memutuskan untuk mengikat janji suci dalam pernikahan. Mereka lalu hidup bersama di bawah satu atap sebagai sebuah keluarga bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama bagi Bawang Putih, sebab sang ayah tercinta menyusul menghadap Sang Pencipta karena sakit.

🪞 Hari-Hari Penuh Ujian

Selepas kepergian sang ayah, tabiat Bawang Merah dan ibunya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat kejam. Mereka selalu memperlakukan Bawang Putih seperti pesuruh. Setiap hari, gadis malang itu harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendirian, sementara Bawang Merah dan ibunya hanya bisa bermalas-malasan sepanjang hari.

Pada suatu pagi yang cerah, Bawang Putih pergi ke sungai dekat rumah untuk mencuci segenap pakaian kotor. Karena tumpukan pakaian begitu banyak, ia tidak sadar kalau sehelai selendang merah milik ibu tirinya terlepas dan terbawa derasnya arus sungai.

Setibanya di rumah, ibu tiri langsung murka mengetahui selendangnya hilang.

"Kamu memang anak yang ceroboh, Bawang Putih! Cari sana selendangku! Jangan berani-berani pulang sebelum kamu menemukannya!" hardik sang ibu dengan suara menggelegar.

"Baik, Ibu. Maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku akan segera mencarinya," jawab Bawang Putih sambil menahan air mata.

👵 Pertemuan Ajaib di Gubuk Tua

Bawang Putih segera berlari menyusuri tepian sungai dengan perasaan cemas. Hari pun mulai beranjak petang, tetapi ia belum juga menemukan selendang tersebut. Di tengah lelah dan putus asa, ia melihat sebuah gubuk reyot di dalam hutan kecil. Di dekatnya, tampak seorang nenek tua renta sedang sibuk mengumpulkan ranting kayu bakar.

Dengan sopan, Bawang Putih mendekati sang nenek. "Permisi, Nek. Namaku Bawang Putih. Maaf mengganggu, aku sedang tersesat mencari selendang milik ibuku yang hanyut terbawa sungai."

Nenek tua itu tersenyum ramah. "Oh, jadi kau sedang mencari selendang, Nak? Apakah selendangnya berwarna merah?"

"Betul sekali, Nek! Bagaimana Nenek bisa tahu?" tanya Bawang Putih keheranan.

"Selendang itu tersangkut di dekat rumah Nenek. Mari masuk ke dalam, Nak, Nenek ambilkan."

Setelah menyerahkan selendang tersebut, sang nenek meminta Bawang Putih tinggal menemaninya selama seminggu karena ia hidup seorang diri. Dengan penuh ketulusan, Bawang Putih menyanggupi permintaan itu.

🎃 Hadiah Dua Buah Labu

Selama seminggu penuh, Bawang Putih merawat nenek dengan penuh kasih sayang. Ia memasak, membersihkan rumah, dan mencari kayu bakar tanpa mengeluh sedikit pun. Sang nenek sangat menyayanginya.

Ketika waktu seminggu telah usai, tibalah saatnya Bawang Putih pamit pulang. Sebagai tanda terima kasih, sang nenek menawarkan sebuah hadiah. Ia menunjukkan dua buah labu ajaib: satu berukuran sangat besar, dan satu lagi berukuran kecil.

"Pilihlah salah satu untuk kau bawa pulang, Nak," kata sang nenek lembut.

Karena berpikir labu kecil lebih mudah dijinjing di jalan, Bawang Putih memilih labu berukuran kecil. Setibanya di rumah, ia menyerahkan selendang merah kepada ibu tirinya, lalu pergi ke dapur untuk membelah labu kecil tersebut.

Alangkah terkejutnya Bawang Putih saat labu itu dibelah—isinya ternyata bukan biji, melainkan deretan perhiasan emas dan permata yang berkilauan!

Mendengar teriakan kaget Bawang Putih, ibu dan Bawang Merah langsung berlari ke dapur. Melihat harta karun yang begitu banyak, mata mereka langsung berbinar-binar penuh kelobaan.

🐍 Petaka Si Tamak

Tanpa buang waktu, ibu tiri memaksa Bawang Putih menceritakan asal-usul labu tersebut. Keesokan harinya, Bawang Merah dan ibunya sengaja pergi ke gubuk nenek tua dengan niat licik agar mendapat hadiah yang sama, atau bahkan yang lebih besar.

Sesampainya di sana, mereka berpura-pura rajin di hadapan sang nenek. Namun, sifat pemalas mereka tidak bisa disembunyikan. Begitu genap seminggu, mereka langsung meminta hadiah labu sebelum pamit.

Tanpa berpikir panjang dan diliputi rasa serakah, Bawang Merah langsung menyambar labu berukuran paling besar.

Dengan hati riang gembira dan senyum penuh kemenangan, mereka bergegas pulang. Sesampainya di dapur, mereka langsung membelah labu besar itu menggunakan pisau tajam, berharap emas permata yang keluar akan berlimpah ruah.

Namun, alih-alih harta karun, dari dalam labu itu justru keluar seekor ular berbisa yang sangat besar! Ular tersebut langsung mematuk Bawang Merah dan ibunya hingga tak bernyawa. Begitulah akhir riwayat bagi hati yang dipenuhi sifat culas dan serakah.

🌟 Pesan Moral Dongeng

  1. Ketulusan Membawa Berkah: Segala kebaikan, kesabaran, dan keikhlasan yang dilakukan Bawang Putih dalam menghadapi setiap ujian hidup pada akhirnya akan berbuah manis dan mendatangkan rezeki yang tak terduga.
  2. Sifat Buruk Membawa Petaka: Sebaliknya, sifat iri dengki, kemalasan, serta keserakahan yang teramat sangat seperti yang dimiliki Bawang Merah dan ibunya hanya akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam jurang kehancuran.

Yuk mainkan gamenya! Ikuti ketulusan Bawang Putih membawa berkah, dan ketamakan yang berbuah petaka.
 

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
Baca juga cerita rakyat Riau lainnya:

    2 komentar: