Cerita Rakyat Jawa Barat


Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat pulau Jawa dengan ibukota berada di kota Bandung.  Berdiri pada 14 Juli 1950 berdasarkan UU No. 11/1950. Provinsi Jawa Barat terdiri dari 17 Kabupaten, 9 Kotamadya, 625 Kecamatan, 636 Kelurahan, dan 5.227 Desa dengan semboyan Gemah, Ripah, Repeh, Rapih yang artinya Makmur, Sentosa, Sederhana, Rapih.



Sebanyak 65% suku yang mendiami Provinsi Jawa Barat adalah Suku Sunda. Sisanya terdiri dari Suku Badui, Suku Jawa, Suku Betawi, Suku Minang, Suku Batak, dan Suku Tionghoa. Bahasa yang digunakan masyarakat Suku Sunda di Provinsi Jawa Barat adalah bahasa Sunda. Bahasa lainnya adalah bahasa Cirebon yang digunakan di daerah Indramayu, Cirebon dan Kuningan, dan bahasa Melayu dialek Betawi yang digunakan di daerah Bekasi dan Depok.

Banyak cerita daerah dari Provinsi Jawa Barat diantaranya:

Menurut legenda masyarakat di kawasan tersebut, asal mula terbentuknya gunung Tangkuban Perahu dikaitkan dengan Legenda Sangkuriang. Ia adalah seorang pemuda yang ingin menikahi ibunya sendiri, yaitu Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan pernikahan, Dayang Sumbi mengajukan syarat yang sangat berat sehingga membuat Sangkuriang marah dan menendang perahu hingga terbalik. Perahu terbalik itulah yang kini dianggap sebagai Gunung Tangkuban Perahu.

Alkisah, zaman dahulu hidup seorang lelaki di tanah Pasundan atau sekarang Jawa Barat, bernama Kabayan. Si Kabayan terkenal sangat pemalas, bodoh, tapi anehnya banyak akal. Akal bulusnya sering ia gunakan untuk mendukung sifat malasnya. Si Kabayan telah memiliki istri bernama Nyi Iteung. Mertua Kabayan sudah sangat kesal dengan sifat menantunya. Ia sering memarahi menantunya tapi Si Kabayan selalu saja punya akal bulus dalam menghadapi mertuanya.

Pangeran Guruminda bersedia menjalani syarat menjadi seekor lutung karena penasaran ingin tahu siapa gadis di dunia manusia yang secantik ibunya. Setelah berubah menjadi seekor lutung, Pangeran Guruminda kemudian pergi melompat ke dunia manusia. Di dunia manusia, berkat kesaktiannya, Lutung Kasarung berhasil mengalahkan semua lutung-lutung. Dalam waktu singkat, Lutung Kasarung diangkat sebagai pemimpin bangsa lutung.

Dikisahkan, pada zaman dahulu terdapat kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kerajaan Kutatanggeuhan diperintah oleh seorang raja adil bijaksana. Penduduk kerajaan biasa memanggil raja dengan sebutan Prabu Suwartalaya. Meskipun berhasil memerintah kerajaannya dengan adil, namun Sang Prabu memiliki masalah yang membuatnya resah, yaitu tidak memiliki seorang anak untuk mewarisi kerajaannya. Akhirnya raja memutuskan akan bertapa di hutan untuk memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akisah, dahulu kala di daerah jawa barat hiduplah seorang lelaki kaya raya. Ia adalah pemilik seluruh sawah dan ladang di desanya. Seluruh penduduk desa hanya menjadi buruh tani penggarap sawah dan ladang si lelaki tuan tanah. Ia dikenal sebagai orang kikir. Penduduk desa memanggilnya dengan julukan Pak Kikir. Bahkan terhadap anak lelaki satu-satunya pun dia tetap bersikap pelit.

Menurut legenda, di sebuah desa di Kabupaten Garut, Jawa Barat, hidup seorang janda bernama Nyi Endit. Ia merupakan seorang janda kaya raya. Dengan kekayaannya, Nyi Endit mampu membeli apa saja yang ia inginkan. Banyak penduduk miskin di desa yang meminjam uang pada Nyi Endit. Namun Nyi Endit meminta imbalan yaitu, penduduk desa harus mengembalikan uang dengan bunga sangat tinggi. Jika telah tiba waktu membayar hutang, Nyi Endit akan menagih uang kepada peminjamnya sembari membawa pengawal atau tukang pukul. Jadi kalau ada peminjam yang tidak mau membayar hutang pada waktunya, tukang pukul Nyi Endit akan melakukan kekerasan.

7. Asal Usul Nama Girilawungan
Di daerah Majalengka, Provinsi Jawa barat, pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Girilawungan. Nama Girilawungan sendiri berasal dari bahasa sunda 'Ngalawung' yang memiliki arti 'berhadap-hadapan'. Konon di tempat tersebut dahulu pasukan Majapahit pernah melakukan aksi 'ngalawung' menunggu putri Giri Larang keluar dari tempat persembunyiannya, karena mereka merasa malu jika harus pulang ke kerajaan Majapahit tanpa hasil.

8. Ciung Wanara
Konon saat itu wilayah kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung barat pulau jawa, hingga Hujung galuh, yang saat ini merupakan muara sungai Brantas di dekat kota Surabaya sekarang. Cerita rakyat Ciung Wanara ini mengisahkan hubungan darah dan juga budaya antara orang sunda yang tinggal di bagian barat pulau jawa dengan orang jawa yang tinggal di bagian tengah dan timur pulau jawa. Dongeng Ciung Wanara memiliki kemiripan dengan dongeng Jawa Timur, Cindelaras.

9. Kabayan Menyamar Jadi Haji
Di desa Malakeudeu tampat tinggalnya, seorang haji dianggap sebagai orang yang sangat terhormat, karena disamping dianggap sebagai orang saleh, seorang haji juga dianggap sebagai orang kaya yang mampu membayar ongkos kapal laut menuju tanah suci untuk beribadah haji. Si Kabayan tahu persis bahwa mertuanya sangat menghormati seorang haji. Jika seorang haji bertandang ke rumah mertuanya, maka mertuanya itu akan menyajikan makanan yang enak untuk menjamu tamu kehormatannya.

10. Kabayan dan Lintah Darat
Si Kabayan kemudian teringat percakapannya dengan Abah mertuanya, “Dengar Kabayan, seberani-beraninya manusia, percayalah dia selalu dibayangi oleh rasa takut. Berani dan takut itu merupakan dua sifat yang menempel dalam jiwa setiap manusia. Juga dalam jiwa si lintah darat kamu itu. Walaupun dia berani menentang larangan agama, dia pasti punya rasa takut akan sesuatu, yang entah apa, harus kamu cari dan ketahui, Kabayan.”

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
  3. Mihardja, Achdiat K. 1997. Si Kabayan, Manusia Lucu, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar