Kabayan dan Lintah Darat

Berikut cerita rakyat Jawa Barat mengisahkan tentang Si Kabayan dan lintah darat. Si Kabayan berjalan mondar-mandir di rumahnya karena gelisah hari itu rentenir akan datang menagih hutang. Ia tidak punya uang untuk membayar cicilan hutangnya hari itu. Dan jika ia tidak membayar cicilan hari itu, tentu saja si rentenir kurang ajar itu akan menaikkan bunga pinjaman seenak perutnya. Pinjaman pokoknya belum terbayar, tiap nyicil cuma habis buat bayar bunganya. Si Kabayan menyesal telah meminjam uang kepada rentenir, namun saat itu ia terpaksa meminjam karena sangat membutuhkan uang.

Kabayan Menyamar Jadi Haji

Kabayan Menyamar Jadi Haji
Berikut ini cerita rakyat Jawa Barat Si Kabayan menyamar jadi haji. Di suatu pagi Si Kabayan merasa perutnya lapar, tapi ia merasa bosan dengan masakan si Iteung istrinya. Si Kabayan ingin makan enak. Karena sudah lama tidak makan enak, ia khawatir akan lupa bagaimana rasanya makan makanan enak itu. Kemudian muncul ide gilanya untuk menikmati makanan enak di rumah mertuanya.

Ciung Wanara

Cerita rakyat Ciung Wanara
Menurut tradisi lisan sunda yang disebut pantun sunda, dahulu kala Ciung Wanara adalah seorang raja yang memimpin kerajaan besar di pulau jawa yaitu kerajaan Sunda Galuh yang beribukota di Ciamis, Jawa Barat sekarang. Konon saat itu wilayah kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung barat pulau jawa, hingga Hujung galuh, yang saat ini merupakan muara sungai Brantas di dekat kota Surabaya sekarang.

Asal Usul Girilawungan


Di daerah Majalengka, Provinsi Jawa barat, pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Girilawungan. Nama Girilawungan sendiri berasal dari bahasa sunda 'Ngalawung' yang memiliki arti 'berhadap-hadapan'. Konon di tempat tersebut dahulu pasukan Majapahit pernah melakukan aksi 'ngalawung' menunggu putri Giri Larang keluar dari tempat persembunyiannya, karena mereka merasa malu jika harus pulang ke kerajaan Majapahit tanpa hasil. Berikut ini kisah lengkapnya.

Legenda Ular Kepala Tujuh, Cerita Bengkulu


Legenda Ular Kepala Tujuh merupakan cerita rakyat Bengkulu, tepatnya Kabupaten Lebong. Menceritakan petualangan Gajah Merik, putra bungsu Raja Bikau Bermano mengalahkan Ular Kepala Tujuh penunggu Danau Tes. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karenanya, jika penduduk melintas di atas danau Tes menggunakan perahu, mereka tidak berani berkata sembrono.