Dongeng Si Kancil

Indonesia memiliki beraneka ragam dongeng binatang salah satunya adalah dongeng Si Kancil. Belum ada penjelasan kuat dan meyakinkan tentang pengaruh Dongeng Si Kancil terhadap pembentukan karakter orang Indonesia. Sebagai sejarah mentalitas, dongeng-dalam hal ini dongeng Si Kancil- dapat merupakan wujud penghayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, pandangan kritis dan pandangan alternatif atas realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang terwakilkan dalam sosok diri Si Kancil.



Dongeng Si Kancil beragam judulnya, berikut ini diantaranya:

Si Kancil Mencuri Timun
Siang malam Pak Tani menjaga kebunnya dari gangguan Si Kancil. Ia sudah merasa kesal dengan kelakuan Si Kancil yang sering mencuri timun di kebunnya. Untuk mencegah masuknya si Kancil ke kebun miliknya, Pak Tani membuat pagar yang cukup tinggi.

Si Kancil Menipu Buaya
Si Kancil memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya. Setelah rasa lelahnya mulai berkurang, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke tengah hutan agar tidak tertangkap Pak Tani. Namun di tengah perjalanan ia terhalang oleh sebuah sungai yang cukup lebar. Si Kancil berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa menyeberangi sungai besar tersebut.

Si Kancil Menipu Harimau
Kancil tampak tenang walaupun sebenarnya ia sangat ketakutan. Ia berpikir bagaimana caranya menipu harimau kelaparan ini. Akhirnya ia berpikir akan mengunakan tipuan yang sama seperti tipuan pada buaya, yaitu beralasan hendak mencari makan dahulu.
"Izinkan aku mencari makan dulu Pak Harimau. Setelah aku kenyang, engkau boleh memakanku." jawab kancil.

Si Kancil dan Sapi
Anak Sapi kemudian dengan susah payah mendorong batang pohon besar. Pak Buaya akhirnya terlepas dari himpitan pohon. Setelah terlepas, tiba-tiba saja mulut Pak Buaya menggigit kaki Anak Sapi. Anak Sapi tentu saja kaget.
"Aduh...Apa-apaan Pak Buaya? Kenapa menggigitku? Kau ingkar janji Pak Buaya! Aku menyesal telah menolongmu." Anak Sapi marah.

Si Kancil dan Siput
Di suatu hari yang cerah, Si Kancil tengah berjalan-jalan di hutan. Kemudian ia berjalan ke atas bukit karena ingin melihat seisi hutan dari atas. Setibanya di atas bukit, sambil membusungkan dadanya, ia berteriak “Wahai penghuni hutan, aku adalah Si Kancil, hewan paling pintar. Tak ada hewan lain di hutan mampu menandingi kecerdikanku.”

Si Kancil dan Ayam Merak
Si Ayam Merak datang dengan membentangkan ekor besarnya yang indah dan berwarna cantik. Si Kancil merasa tidak senang dengan kehadiran Si Burung Merak. Warga hutan mengenal Si Burung Merak sebagai seekor burung sombong. Si Ayam Merak senang sekali memamerkan ekor indahnya pada warga hutan.

Si Kancil dan Kerbau Dungu
Sampailah Kancil di suatu kubangan lumpur. Ia melihat seekor kerbau tengah mandi di kubangan lumpur. Pada siang terik, kerbau memang senang berkubang di kubangan lumpur. “Hai kerbau! Sedang apa kamu di kubangan lumpur? Tubuhmu kan jadi kotor hai Kerbau?” tanya Kancil.

Referensi:
  1. Purnomo, S.Pd, Hadi. 2013. Kumpulan Cerita Rakyat. Yogyakarta: Tugu Publisher.
  2. Sukmawan. Sony. Representasi Budaya Jawa Dalam Dongeng Si Kancil (Sebuah Kajian budaya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar