Cerita Rakyat Sumatra Barat

Provinsi Sumatera Barat terletak di bagian barat pulau Sumatra, berdiri pada tanggal 3 Juli 1958 berdasarkan UU No.61/1958 dengan beribukota di kota Padang dan memiliki semboyan Tuah Sakato yang artinya Manfaat Kesepahaman.. Sumatera Barat memiliki 12 kabupaten, 7 kotamadya, 176 kecamatan, 303 kelurahan, dan 711 desa. Suku yang mendiami Provinsi Sumatera Barat yaitu Suku Minagkabau yang merupakan mayoritas. Sisanya terdiri dari Suku Jawa, Suku Batak, Suku Mandailing, dan Suku Mentawai. Sedangkan bahasa yang digunakan masyarakat Sumatera Barat adalah Bahasa Minang dengan berbagai dialek berbeda seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Payakumbuh, dan dialek Pesisir Selatan. Sisanya adalah Bahasa Batak, Bahasa Mandailing, dan Bahasa Mentawai.



Banyak cerita daerah dari Provinsi Sumatera Barat diantaranya:

Di Sumatera Barat terdapat sebuah gunung sangat tinggi. Masyarakat setempat menyebutnya Gunung Tinjau. Di kaki Gunung Tinjau, terdapat sebuah perkampungan yang memiliki tanah subur. Penduduk setempat kebanyakan bermata pencarian menjadi petani. Masyarakat hidup makmur karena hasil panen selalu melimpah.

Kehidupan keluarganya yang miskin, membuat Malin Kundang ingin merantau. Ia berpikir jika berhasil dalam perantauannya, maka ibunya tak perlu lagi hidup dalam kemiskinan. Tidak perlu lagi berkeliling kampung berjualan kue. Malin Kundang kemudian meminta izin ibunya untuk merantau. Mendengar keinginan anak kesayangannya, Mande Rubayah tak kuasa menolaknya, walaupun sebenarnya ia tidak setuju. Ia khawatir anaknya akan hilang di perantauan dan tidak kembali seperti terjadi pada ayahnya.

Bertetangga dengan Malim Deman sekeluarga, tinggallah seorang janda baik hati bernama Mande Rubiah. Kebetulan rumah Mande Rubiah berdekatan dengan sawah milik Ibu Malim Deman. Mereka sudah seperti keluarga. Mande Rubiah biasa membawakan Malim Deman makanan saat Malim Deman menjaga tanaman padinya di malam hari.

Pak Lebai Malang. Ia adalah seorang lelaki serakah, saking serakahnya, ia justru tidak mendapatkan apapun yang ia inginkan. Alkisah, dahulu kala di Sumatera Barat, hidup seorang lelaki bernama Pak Lebai. Pak Lebai tinggal di sebuah rumah, terletak tepat di tengah antara bagian hulu dan bagian hilir sebuah sungai.

Alkisah di nagari Koto Anau, memerintah seorang raja bernama Raja Aniayo. Sang Raja terkenal memiliki perangai buruk. Sang Raja juga terkenal gemar berjudi. Jangankan kepada rakyatnya, terhadap keluarga sendiri pun Raja Aniayo tega berlaku kejam.

Raja Tuo memiliki putri semata wayang sangat cantik bernama Putri Lenggogeni. Disamping pintar, Putri Lenggogeni juga dikenal cerdas. Putri Lenggogeni sering memberikan masukan pada ayahnya ketika terhimpit masalah terkait kerajaan atau rakyat. Banyak lelaki jatuh cinta pada Putri Lenggogeni tapi tidak berani melamarnya karena sadar bahwa putri hanya mau menerima lamaran Putra Mahkota Kerajaan.

Referensi:

  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
  3. Adilla, Ivan, Cerita Rakyat dari Agam (Sumatera Barat), Grasindo, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar