Cerita Rakyat Aceh

Provinsi Aceh berada di bagian paling barat pulau Sumatra, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara. Berdiri pada tanggal 7 Desember 1956 berdasarkan UU No.26/1956 dengan beribukota di kota Banda Aceh dan memiliki semboyan Pancacita yang artinya Lima Cita.  Aceh memiliki 18 kabupaten, 5 kotamadya, 286 kecamatan, 108 kelurahan, dan 6.321 desa.



Suku yang mendiami Provinsi Aceh yaitu Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Singkil, Aneuk Jamee, Pakpak, Sigulai, Lekon, Devayan, Haloban, dan Nias. Dan juga ada suku-suku lainnya seperti Simeulue, Jawa, Batak, Minangkabau, Palembang, Makassar, dan Hakka atau Tionghoa. Sedangkan bahasa yang digunakan masyarakat Aceh adalah Bahasa Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Singkil, Aneuk Jamee, Pakpak, Sigulai, Lekon, Devayan, Haloban, dan Bahasa Nias.

Banyak cerita daerah dari Provinsi Aceh diantaranya:

Menurut dongeng, dahulu kala di sebuah gubug kecil, hidup sepasang suami istri yang sudah tua. Kehidupan mereka sangat miskin. Sang suami berkerja menjadi buruh angkut di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di usia mereka yang telah senja, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Namun begitu, keduanya tidak pernah berhenti berdoa. Setiap hari mereka selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan seorang anak.

Berikut ini informasi lain mengenai Aceh:

Menurut catatan sejarah, Aceh adalah tempat pertama masuknya agama Islam di Indonesia dan sebagai tempat timbulnya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Peureulak dan Pasai. Kerajaan yang dibangun oleh Sultan Ali Mughayatsyah dengan ibukotanya di Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh sekarang) lambat laun bertambah luas wilayahnya yang meliputi sebagaian besar pantai Barat dan Timur Sumatra hingga ke Semenanjung Malaka. Kehadiran daerah ini semakin bertambah kokoh dengan terbentuknya Kesultanan Aceh yang mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di daerah itu.

Hasil Alam

Hasil alam Aceh diantaranya kelapa sawit, kopi, kelapa, tembakau, kacang mede, kacang tanah, kapuk, kedelai, lada, tebu, karet, ubi jalar, jagung, ikan tuna, dan cengkih.

Obyek Wisata

Obyek wisata Provinsi Aceh diantaranya Pantai Lhok Nga, Pantai Sabang, Kuburan Kherkoff, replika pesawat Dakota RI-001, Benteng Indrapatra, Taman Putroe Phang, Danau laut Tawar, Danau Aneuk Laot, Tsunami Monument dan Garden, Air Terjun Shuhom, dan masih banyak lainnya.

Makanan dan Minuman

Makanan khas di Aceh adalah Timphan, Gulai Itik, Kari Kambing, Mi Aceh, Martabak Durian, Meuseukat. Sementara minuman yang terkenal diantaranya Jus Terong Belanda, Kopi Tarik dan itube.

Pakaian Adat

Pakaian adat Aceh, para lelakinya memakai celana panjang, baju lengan panjang dengan sebuah kancing dileher baju, dipinggang dililitkan kain songket dengan Rencong diselipkan di bagian depan. Kaum perempuanya memakai baju yang dilengkapi selendang, celana yang ditutup kain songket serta perhiasan kembang goyang di kepala.

Pahlawan

Pahlawan dari Provinsi Aceh adalah Cut Nyak Dien, Cut Nyak Mutia, Panglima Polim, Sultan Iskandar Muda, Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Tengku Nyak Arif, Tengku Muhammad Hasan, dan Yap Tiam Hien.

Rumah Adat

Rumah adat tradisional Aceh adalah Rumoh Aceh yang selalu dibangun menghadap mekah dan terdiri dari seuramo-keue, seuramo teungoh, seuramo likoot, rumoh inong, rumoh dapu, seulasa, kroong padee, keupaleh, dan tamee.

Alat Musik dan Lagu

Alat Musik yang sering dimainkan di Aceh adalah Serunee Kalee (serunai), Rapa-ii, Gong, Geundrang, Tambo, Tok-tok, Bereguh, Canang, Celempong, Arbab, Seruling Bambu, dang Bangsi Alas.

Lagu yang populer di Aceh yaitu Lagu Bungong Jeumpa, Lagu Lembah Alas, Lagu Piso Surit, dan Lagu Sepakat.

Senjata Tradisional

Senjata Tradisional dari Aceh yang terkenal adalah Rencong, Siwah, Pedang Sikin Panjang, Perisai Awe, Perisai Teumaga, Pedang Daun Tebu, Pedang Oom Ngom, Peudeung, Geuliwang, dan Reundeuh.


Tarian Daerah

Tari Daerah Aceh diantaranya Tari Saman atau Tari Tangan Seribu, Tari Ratep Meuseukat, Tari Rapa-ii Geleng, Tari Seudati, Tari Tarek Pukat, Tari Likok Pilo, Tari Bines, Tari japin Tamiang, Tari Ula-ula Lembing, Tari Ranup Lampuan, Tari Ratoh Duek, Guel, Tari Daboih, Tari Alee Tanjung, Tari Didong, Tari Perang Sabil, Tari Lansir Madam, Tari Pho, Tari Marhaban, Tari Pameulia Jamee.

Referensi:

  1. Damayanti, Astri, 2014, Dongeng Klasik 5 Benua, Jakarta: Penerbit Bestari Buana Murni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar