Cut Caya dan Cut Cani adalah dua orang gadis yang sangat cantik di sebuah desa di Aceh. Keduanya bersaudara kandung, anak dari seorang petani yang rajin dan bijaksana bernama Pak Ali. Meskipun mereka bersaudara, sifat dan kepribadian mereka sangat berbeda.
Cut Caya, si kakak, dikenal sebagai gadis yang ramah, rendah hati, dan suka menolong. Ia selalu membantu ayahnya di ladang dan ibunya di rumah. Cut Caya juga sangat disukai oleh penduduk desa karena kebaikan hatinya. Sementara itu, Cut Cani, si adik, memiliki sifat yang berbeda. Ia cenderung sombong, pemalas, dan suka memamerkan kecantikannya. Cut Cani lebih suka menghabiskan waktunya untuk berdandan dan bersantai daripada membantu orang tuanya.
Suatu hari, Pak Ali memanggil kedua putrinya ke hadapannya. "Anak-anakku, ayah sudah tua. Suatu saat nanti, ayah tidak akan bisa lagi bekerja seperti dulu. Kalian harus belajar mandiri dan saling membantu," kata Pak Ali dengan suara lembut. Cut Caya mengangguk perlahan, sementara Cut Cani hanya terdiam tanpa ekspresi.
Beberapa bulan kemudian, Pak Ali jatuh sakit. Kondisi ekonomi keluarga mereka pun menjadi sulit. Cut Caya mengambil alih tanggung jawab mengurus ladang dan rumah. Ia bekerja keras dari pagi hingga malam tanpa mengeluh. Sementara itu, Cut Cani tetap bersikap acuh tak acuh. Ia bahkan marah ketika diminta membantu kakaknya.
Suatu malam, Pak Ali memanggil Cut Caya dan Cut Cani ke samping tempat tidurnya. "Anak-anakku, ayah merasa ajal ayah sudah dekat. Sebelum ayah pergi, ayah ingin memberikan sesuatu kepada kalian," kata Pak Ali dengan suara lemah. Ia kemudian memberikan sebuah kotak kayu kecil kepada Cut Caya dan sebuah cermin antik kepada Cut Cani.
"Cut Caya, kau adalah anak yang baik dan bertanggung jawab. Kotak ini berisi benih-benih ajaib. Tanamlah benih ini dengan hati yang tulus, dan kau akan mendapatkan kebahagiaan," kata Pak Ali. Kemudian ia berpaling ke Cut Cani. "Cut Cani, kau adalah anak yang cantik, tetapi kau harus belajar untuk lebih rendah hati. Cermin ini akan membantumu melihat dirimu yang sebenarnya."
Setelah memberikan pesan terakhirnya, Pak Ali pun meninggal dunia. Cut Caya dan Cut Cani merasa sangat sedih, tetapi mereka tetap harus tegar melanjutkan hidup.
Singkat kata, Cut Caya mengikuti nasihat ayahnya. Ia menanam benih-benih ajaib di ladang mereka dengan penuh ketulusan. Dalam waktu singkat, benih-benih itu tumbuh menjadi tanaman yang subur dan menghasilkan buah-buahan yang melimpah. Kehidupan mereka pun menjadi lebih baik berkat kerja keras Cut Caya.
Sementara itu, Cut Cani justru semakin terobsesi dengan kecantikannya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin antik pemberian ayahnya. Suatu hari, saat sedang bercermin, tiba-tiba cermin itu berbicara. "Cut Cani, kau memang cantik, tetapi kecantikanmu tidak ada artinya jika kau tidak memiliki hati yang baik."
Cut Cani terkejut mendengar suara dari cermin itu. Ia merasa marah dan kesal. "Apa maksudmu? Aku adalah gadis tercantik di desa ini!" teriak Cut Cani. Namun, cermin itu tetap diam. Cut Cani pun melemparkan cermin itu ke sudut ruangan.
Seiring berjalannya waktu, Cut Caya semakin disukai oleh penduduk desa karena kebaikan hatinya. Banyak pemuda yang datang melamarnya, tetapi Cut Caya menolak dengan halus. Ia lebih memilih untuk fokus membantu keluarganya. Sementara itu, Cut Cani semakin dijauhi oleh orang-orang karena sifat sombongnya. Ia merasa kesepian dan mulai menyadari kesalahannya.
Suatu hari, Cut Cani mendatangi kakaknya. "Kak, aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini. Aku telah sombong dan tidak menghargai keluargaku. Bisakah kau memaafkanku?" kata Cut Cani berlinang air mata. Cut Caya tersenyum seraya memeluk adiknya. "Tentu saja, adikku. Kita adalah saudara, dan aku selalu menyayangimu."
Sejak saat itu, Cut Cani berubah menjadi gadis yang lebih baik. Ia mulai membantu kakaknya di ladang dan belajar untuk lebih rendah hati. Penduduk desa pun mulai menerimanya kembali. Kehidupan mereka pun menjadi lebih harmonis dan bahagia.
Suatu malam, Cut Caya bermimpi bertemu dengan ayahnya. Pak Ali tersenyum bangga melihat kedua putrinya telah berubah menjadi lebih baik. "Anak-anakku, ayah bangga pada kalian. Teruslah saling membantu dan jangan pernah lupa untuk selalu rendah hati," kata Pak Ali dalam mimpi itu.
Keesokan harinya, Cut Caya dan Cut Cani pergi ke makam ayah mereka. Mereka berdoa dan berterima kasih atas semua nasihat yang telah diberikan ayah mereka. Sejak saat itu, mereka hidup dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar