Cerita Rakyat Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi yang terletak di sebelah timur pulau jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Madura, dan Provinsi Bali. Diresmikan pada tanggal 4 Maret 1950 berdasarkan UU No.2/1950 dengan beribukota di kota Surabaya dan memiliki semboyan Jer Basuki Mawa Bea yang artinya Kesuksesan Membutuhkan Pengorbanan. Jawa Timur memiliki 29 kabupaten, 9 kotamadya, 662 kecamatan, 782 kelurahan, dan 7.741 desa.



Suku yang mendiami Provinsi Jawa Timur yaitu Suku Jawa, Suku Madura, Suku Tengger, Suku Osing, Orang Samin, Suku Bali, Arab, dan Tionghoa. Sedangkan bahasa yang digunakan masyarakat Suku Jawa di Provinsi Jawa Timur adalah bahasa Jawa. Dengan dialek Jawa Tengah-an, dialek Jawa Timur-an atau boso suroboyoan, bahasa walikan, bahasa madura, dan bahasa Osing.

Banyak cerita daerah dari Provinsi Jawa Timur diantaranya:

Raden Inu Kertapati adalah putra mahkota kerajaan Jenggala. Ia telah bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri kerajaan Kediri. Ada dua putri cantik dari kerajaan Kediri yaitu Dewi Candra Kirana dan Dewi Ajeng. Namun Raden Inu Kertapati sangat mencintai Dewi Candra Kirana.

Pada suatu ketika, saat tengah bulan Purnama, setelah lama berjalan di hutan lebat, Aryo Menak beristirahat di bawah sebuah pohon besar di pinggir sebuah danau. Pada saat duduk, dari kejauhan ia melihat suatu cahaya berpendar dari arah danau. Aryo Menak kemudian berjalan mengendap-ngendap mendekati sumber cahaya. Betapa terkejutnya Aryo Menak setelah mengetahui bahwa cahaya tersebut berasal dari tujuh orang bidadari langit tengah mandi di danau.

Alkisah, zaman dahulu di daerah ujung timur Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar. Kerajaan tersebut diperintah seorang Raja adil bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putra gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu di hutan.

Menurut legenda, Joko Dolog merupakan sebuah patung yang konon merupakan penjelmaan dari tubuh Pangeran Jaka Taruna putra adipati Kediri. Menurut cerita, Jaka Taruna ingin mempersunting Purbawati, putri Adipati Jayengrana. Adipati Jayengrana merupakan adipati Surabaya. Tapi Jaka Taruna kalah bertarung melawan Pangeran Situbondo dan juga Jaka Jumput hingga akhirnya berubah menjadi patung.

Alkisah, zaman dahulu hidup seekor buaya besar bernama Baya. Ia mempunyai musuh bebuyutan seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir setiap hari keduanya berkelahi. Karena sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas, tidak ada yang menang maupun kalah. Jika keduanya tengah berkelahi, perairan di sekitarnya akan menjadi bergelombang besar dan keruh. Hewan-hewan yang hidup disekitar mereka merasa terganggu. Hewan-hewan lainnya berusaha untuk mendamaikan keduanya. Namun Sura & Baya terus saja bermusuhan.

Damar Wulan adalah seorang pemuda sakti mandraguna. Ia berjasa membantu penguasa Kerajaan Majapahit, Ratu Ayu Kencana Wungu. Damar Wulan berhasil mengalahkan Menakjingga, seorang adipati di daerah Blambangan yang sakti mandraguna tapi berhati kejam juga sering berlaku sewenang-wenang.

Menceritakan kisah putra Raja Jenggala dengan Sang Permaisuri. Ibu Cindelaras, Sang Permaisuri mendapat fitnah dari selir Raja hingga akhirnya diasingkan ke hutan saat sedang mengandung Cindelaras oleh Raden Putra, Raja Jenggala. Cindelaras sendiri dilahirkan di hutan. Namun akhirnya Cindelaras mampu membuktikan pada Raja Jenggala bahwa ibunya tidak bersalah.

Alkisah Prabu Kertamarta, Raja Kerajaan Daha, memiliki dua orang putri, Galuh Ajeng dan adiknya, Candra Kirana. Si sulung, Galuh Ajeng memiliki paras cantik, namun Candra Kirana jauh lebih cantik. Si Bungsu Candra Kirana telah memiliki tunangan, yaitu seorang pangeran tampan, putra mahkota Kerajaan Kahuripan bernama Raden Inu Kertapati. Diam-diam Si Sulung, Galuh Ajeng juga mencintai Raden Inu Kertapati. Oleh karenanya ia sangat iri melihat keberuntungan Candra Kirana. Galuh Ajeng kemudian mempunyai niat jahat menyingkirkan adiknya dari istana Kerajaan Daha.

Berikut ini informasi lain mengenai Jawa Timur:

Jawa Timur adalah salah satu ekonomi terbesar di Indonesia dan menikmati pertumbuhan ekonomi yang positif dari tahun ke tahun, termasuk 5 tahun terakhir, selalu di atas rata-rata 7,2% per tahun. Krisis ekonomi global sejak pertengahan 2008 tidak membuat perekonomian Jawa Timur merosot, meskipun sedikit penurunan yang tidak terlalu signifikan.

Hasil Alam

Hasil alam Jawa Timur diantaranya tembakau, coklat, cengkih, kacang tanah, agave/sisal, kapas, kapuk, kedelai, ketela pohon, tebu, vanili, jagung, dan karet.

Obyek Wisata

obyek wisata Provinsi Jawa Timur yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo, Pantai Kenjeran, Jembatan Suramadu, Taman Nasional Baluran, Talaga Sarangan, Pantai Watu Ulo, Pantai Tanjung Kodok, Gua Akbar, Gua Maharani, Gua Gong, Tugu Pahlawan, Makam Proklamator Ir. Sukarno, Museum Mpu Tantular, Kebun Binatang Surabaya, Wisata Api Abadi, Waduk Pacal, dan Monumen Kapal Selam.

Makanan dan Minuman

Makanan khas di Jawa Timur yaitu Sate madura, Soto lamongan, Lontong Kupang, Rujak Cingur, Tahu Pong, Nasi pecel Madiun, Brem, Lontong Balap, Semanggi, Rujak Petis, Rawon, Wingko Babat, Tahu Takwa, Pecel Semanggi, Rujak Cingur, Lontong Balap, Sate Kerang, Getuk Pisang, Keripik Tempe, Tape Bondowoso, Nasi Krawu, otak-otak Bandeng, bonggolan, Pudak, Sego Tempong, Rujak Soto, Kerupuk Udang, Pecel Rawon.

Pakaian Adat

Pakaian adat Jawa Timur, para lelakinya memakai baju lengan panjang dengan kerah terkancing, celana panjang, kait batik yang diikatkan di pinggang dan memakai penutup kepala. Kaum perempuanya memakai gaun kebaya, kain panjang motif kawung, dan berkerudung.

Pahlawan

Pahlawan dari Provinsi Jawa Timur adalah Abdul Wahid Hasyim, Abdul Halim Perdanakusumah, Basuki Rahmat, Bung Tomo, Douwes Dekker, Hasyim Asy'ari, Iswahyudi, M.T. Haryono, Mas Mansur, Umar Said Cokroaminoto, Muhamad Dahlan, Mustopo, Panji Suroso, Sukarno, Supriyadi, Suryo, Sutomo, dan Trunojoyo.

Rumah Adat

Rumah adat tradisional Jawa Timur dinamakan Rumah Joglo, bentuk limasan, dan bentuk srontongan. Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo, bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep). Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.

Alat Musik dan Lagu

Alat Musik yang sering dimainkan di Jawa Timur adalah gamelan yang terdiri dari bonang, kendang, demung, bonang penerus, saron, peking, kenong dan kethuk, slethem, gender, gong, gambang, dan rebab.

Senjata Tradisional

Senjata Tradisional dari Jawa Timur yang terkenal adalah clurit.


Tarian Daerah

Tari Daerah Jawa Timur diantaranya Tari Remo, Tari Parikan, Tari Reog Ponorogo, Tari Kuda Lumping, Tari Jejer gandrung, Tari Merak, Tari Beskalan Putri, Tari Rampak Kencak, Tari Sri Penganti, Tari Soyong, Tari Cemeti, Tari Boranan, Tari Puteri Ledang, Tari Karonsih, Tari Gedog Srampat, Tari Jaran Ucul, Tari Gandrung, Tari Incling Jangget, Tari Dongkrek, Tari Gandrung, Tari Oklik Banyuwangi, Tari Glepang, Tari Ketek Ogleg, Tari Jejer, Tari Jaran Kepang, Tari Ngremo, dan Tari Sandur.

Referensi:

  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar