Cerita Rakyat Yogyakarta

By Dwi Oblo of Reuters Indonesia - NL Wikipedia, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=1097767

Yogyakarta berada di bagian selatan pulau Jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Yogyakarta berdiri pada tanggal 4 Maret 1950 berdasarkan UU No.3 Tahun 1950 dengan beribukota di kota Yogyakarta dan memiliki semboyan Hamemayu Hayuning Bawono yang memiliki arti Mengalir Dalam Hembusan Alam. Yogyakarta memiliki 4 kabupaten, 1 kotamadya, 78 kecamatan, 46 kelurahan, dan 392 desa.



Suku yang mendiami Provinsi Yogyakarta yaitu Suku Jawa. Ada juga suku-suku pendatang seperti Suku Sunda, Suku Melayu, Suku Tionghoa, Suku Batak, Suku Minang, Suku Bali, Suku Madura, Suku Banjar, Suku Bugis, Suku Betawi, Suku Banten, dan suku lainnya. Sedangkan bahasa yang digunakan masyarakat Yogyakarta adalah Bahasa Jawa Rendah (Ngoko), Bahasa jawa Krama Andhap (bahasa jawa tengah), Bahasa Jawa Krama Inggil (bahasa jawa tinggi). Ada juga bahasa yang hanya digunakan di lingkungan keraton yang disebut Bahasa Bagongan.

Banyak cerita rakyat dari Provinsi Yogyakarta diantaranya:

Menurut legenda, pada zaman dahulu terdapat dua buah kerajaan sama besar yang saling bertetangga, kerajaan Prambanan & kerajaan Pengging. Kerajaan Prambanan dipimpin oleh Raja Boko yang memiliki putri sangat cantik bernama Roro Jonggrang. Sedangkan kerajaan Pengging dipimpin oleh raja Pengging. Raja Pengging terkenal sangat haus kekuasaan.

Berikut ini informasi lain mengenai Yogyakarta:

DIY terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara geografis terletak pada 8º 30' - 7º 20' Lintang Selatan dan 109º 40' - 111º 0' Bujur Timur. Berdasarkan bentang alam, wilayah DIY dapat dikelompokkan menjadi empat satuan fisiografi, yaitu satuan fisiografi Gunungapi Merapi, satuan fisiografi Pegunungan Selatan atau Pegunungan Seribu, satuan fisiografi Pegunungan Kulon Progo, dan satuan fisiografi Dataran Rendah. Satuan fisiografi Gunungapi Merapi, yang terbentang mulai dari kerucut gunung api hingga dataran fluvial gunung api termasuk juga bentang lahan vulkanik, meliputi Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Bantul. Daerah kerucut dan lereng gunung api merupakan daerah hutan lindung sebagai kawasan resapan air daerah bawahan. Satuan bentang alam ini terletak di Sleman bagian utara. Gunung Merapi yang merupakan gunungapi aktif dengan karakteristik khusus, mempunyai daya tarik sebagai objek penelitian, pendidikan, dan pariwisata.


Kondisi fisiografi tersebut membawa pengaruh terhadap persebaran penduduk, ketersediaan prasarana dan sarana wilayah, dan kegiatan sosial ekonomi penduduk, serta kemajuan pembangunan antarwilayah yang timpang. Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah dataran fluvial yang meliputi Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul (khususnya di wilayah Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta) adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang.

Secara geografis, DIY juga diuntungkan oleh jarak antara lokasi objek wisata yang terjangkau dan mudah ditempuh. Sektor pariwisata sangat signifikan menjadi motor kegiatan perekonomian DIY yang secara umum bertumpu pada tiga sektor andalan yaitu: jasa-jasa; perdagangan, hotel dan restoran; serta pertanian. Dalam hal ini pariwisata memberi efek pengganda (multiplier effect) yang nyata bagi sektor perdagangan disebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan. Selain itu, penyerapan tenaga kerja dan sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat signifikan.

Hasil Alam

Hasil alam Yogyakarta diantaranya kayu jati, benang sutra, cengkeh, cokelat, kacang mede, kayu manis, kelapa, lada, rosela/rami, tebu, tembakau, vanili, karet, kopi, dan ikan tuna.

Obyek Wisata

DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya dan beradat tradisi. Selain itu, DIY juga mempunyai 30 museum, yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional. Pada 2010, persentase benda cagar budaya tidak bergerak dalam kategori baik sebesar 41,55%, seangkan kunjungan ke museum mencapai 6,42%.

Makanan dan Minuman

Makanan khas di Yogyakarta adalah Gudeg, Bakpia, Geplak, Bakmi Jawa, Sate Klathak, Sate Karang, Sate Gajah, dan Sate Kelinci. Sedang minumannya adalah Wedang Uwuh dan Wedang Ronde.

Pakaian Adat

Pakaian adat Yogyakarta, para lelakinya memakai baju surjan yang bawahannya sama-sama dari kainbatik corak khas yogyakarta, blangkon di kepala dan mengenakan keris dibelakang badan. Kaum perempuanya memakai kebaya bermotif, bawahannya juga daribatik dengan model rambut ditata rapi dan disanggul.

Pahlawan

Pahlawan dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Ki Hajar Dewantara, Ahmad Dahlan, Fahrudin, KI Bagus Hadikusumo, Siti Walidah, Nyi Ageng Serang, Paku Alam I, Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Diponegoro, Sultan Hamengku Buwono IX, Sugiono Mangunwiyoto, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Suryopranoto, dan Wahidin Sudiro Husodo.

Rumah Adat

Rumah adat tradisional Yogyakarta adalah Rumah Joglo yang memiliki empat tiang yang disebut soko guru.

Alat Musik

Alat Musik yang sering dimainkan di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, Sitar/Celempung, Suling, dan Gendang.

Senjata Tradisional

Senjata Tradisional dari Yogyakarta yang terkenal adalah Keris dan Tombak Pusaka.

Tarian Daerah

Tari Daerah Yogyakarta diantaranya Tari Tari Serimpi, Tari Pregiwa Pregiwati, Tari Langen Asmoro, Tari Bedoyo Ketawang, Tari Rara Ngigel, Tari Kumbang, Tari Klono Rojo, Tari Golek Ayun-Ayun, Tari Satrio Watang, Tari Putri Panggung, Tari Golek Sulung Dayung, Tari Topeng Walang Kekek, Tari Gambir Anom, Tari Bondan, dan Tari Ramayana.

Referensi:


  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar