📜 Legenda Begawan Selapawening dan Pantai Selatan
Dahulu kala di Kerajaan Majapahit, hiduplah seorang pangeran yang bijaksana bernama Begawan Selapawening. Beliau adalah putra dari Raja Brawijaya. Ketika zaman mulai berganti dan ajaran Islam makin meluas di Tanah Jawa, Begawan Selapawening bersama para pengikutnya memilih untuk berpindah tempat. Mereka berjalan jauh menuju arah selatan untuk mencari kedamaian dan mendirikan tempat tinggal baru.
🌊 Mengembara dan Mendirikan Padepokan
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, sampai juga Begawan Selapawening dan para pengikutnya di tepi pantai yang indah, yaitu Pantai Selatan Yogyakarta. Di sana, mereka saling bergotong royong membangun sebuah tempat tinggal dan tempat belajar yang disebut padepokan.
Padepokan tersebut berdiri indah di sebuah daerah bernama Desa Pemancingan. Semua murid dan pengikut Begawan Selapawening hidup tenang sambil mempelajari ilmu-ilmu kebaikan.
🍃 Kedatangan Tamu dari Jauh
Suatu hari, datanglah seorang ulama yang sangat santun bernama Syekh Maulana Maghribi. Beliau berkunjung ke padepokan dengan niat baik untuk mengenalkan ajaran Islam kepada Begawan Selapawening dan masyarakat setempat.
Syekh Maulana Maghribi menemui Begawan Selapawening secara terbuka dan penuh rasa hormat. Beliau menyampaikan maksud kedatangannya agar ajaran Islam dapat disambut dengan hangat di wilayah tersebut.
🔍 Uji Kesaktian Petak Sembet
Begawan Selapawening tidak langsung menyetujui ajakan tersebut. Namun, beliau memberikan sebuah tantangan yang menarik. Jika Syekh Maulana Maghribi mampu menandingi kesaktiannya, maka padepokan itu akan diserahkan untuk dijadikan tempat menyebarkan ajaran Islam.
Tantangan pertama pun dimulai! Merekapun bermain petak sembunyi (delikan). Pertama-tama, Begawan Selapawening bersembunyi di tempat yang sangat tersembunyi. Namun, berkat kelebihannya, Syekh Maulana Maghribi dapat menemukannya dengan mudah! Sebaliknya, ketika giliran Syekh Maulana Maghribi yang bersembunyi, Begawan Selapawening sama sekali tidak berhasil menemukannya.
🎣 Lomba Memancing yang Ajaib
Tantangan kedua tak kalah seru, yaitu lomba memancing ikan di tepi pantai!
Begawan Selapawening mendapat kesempatan pertama. Dengan kemahiran dan kesaktiannya, beliau berhasil memancing seekor ikan yang sangat besar. Wah, semua orang bersorak kagum!
Kini giliran Syekh Maulana Maghribi yang memegang kail pancingnya. Tak berapa lama, umpan ditarik dan... ajaib sekali! Ikan yang tersangkut di kail beliau tidak hanya besar, tetapi sudah matang dan siap untuk disantap! Semua warga yang menyaksikan terkagum-kagum dibuatnya. Begawan Selapawening pun tersenyum dan menyadari kehebatan Syekh Maulana Maghribi. Dengan rasa hormat dan rendah hati, Begawan Selapawening menyerahkan padepokannya.
🕌 Lahirnya Bukit Sentana dan Bambu Ajaib
Padepokan tua itu kemudian diubah oleh Syekh Maulana Maghribi menjadi sebuah pondok pesantren. Tempat ini menjadi pusat belajar agama dan ilmu bela diri (kanuragan) bagi masyarakat sekitar.
Uniknya, gagang pancing dari bambu yang digunakan Syekh Maulana Maghribi saat perlombaan ditancapkan di kebun belakang. Ajaibnya, bambu itu tumbuh menjadi rumpun bambu yang sangat rimbun dan dikenal sebagai Bambu Sentana atau Bambu Pemancingan. Konon, bambu keramat ini kelak ikut melindungi rakyat saat masa perjuangan melawan penjajah!
Berawal dari kisah persahabatan dan ujian kesaktian tersebut, ajaran Islam berkembang pesat dan membawa kedamaian di sekitar Bukit Sentana.
Yuk, ikuti langsung kisah Begawan Selapawening lewat dongeng interaktif berikut! Bantu rombongan Begawan menyeberang ke pantai selatan, dirikan padepokannya, dan saksikan adu kesaktian melawan Syekh Maulana Maghribi — lengkap dengan narasi suara dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Referensi:
- Sumber: Suwanda, Bambang. 1980/1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar