Cerita Rakyat Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara terletak di bagian utara pulau Sumatra berbatasan dengan Provinsi Aceh. Berdiri pada tanggal 7 Desember 1956 berdasarkan UU No.24/1956 dengan beribukota di kota Medan dan memiliki semboyan Mar Sipature Hutana Be yang artinya Berlomba-lomba Membangun Daerah.

Sumatera Utara memiliki 25 kabupaten, 8 kotamadya, 414 kecamatan, 662 kelurahan, dan 5.025 desa.



Suku yang mendiami Provinsi Sumatera Utara yaitu Batak Karo, Batak Samosir, Batak Mandailing, Batak Toba, Batak Angkola, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Melayu, Minagkabau, Jawa, Aceh, Tionghoa, dan Suku Nias. Sedangkan bahasa yang digunakan masyarakat Sumatera Utara adalah Bahasa Batak yang terdiri dari empat logat yaitu Silindung, Humbang, Samosir, Toba. Selain bahasa batak, ada juga Bahasa Nias, Melayu, Jawa, dan bahasa Hokkian.

Banyak cerita rakyat di Provinsi Sumatera Utara diantaranya:

Tare Iluh dan Beru Sibou kini menjadi anak yatim piatu. Mereka berdua kemudian diasuh oleh  bibinya, adik dari ayah mereka. Tare Iluh sebagai kakak merasa sangat sedih dengan penderitaan yang mereka alami. Setelah kedua orang tua mereka meninggal, kini bibi merekalah yang membanting tulang menghidupi mereka. Tare Iluh berjanji suatu saat nanti ia akan berkerja keras mencari nafkah untuk kehidupan yang lebih baik.

Alkisah, di Sumatera Utara dahulu kala hidup seorang pemuda yatim piatu yang miskin bernama Toba. Ia hidup sendiri sebatang kara. Si pemuda miskin tinggal di sebuah lembah subur. Sehari-hari ia menghidupi dirinya dengan cara bertani dan mencari ikan di sungai yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Hasil bertani beserta ikan hasil memancing ia masak untuk dijadikan lauk makanannya sementara sisanya ia jual di pasar.

Konon berdasarkan pandangan masyarakat Sumatera Utara masa itu, ada sebuah binatang sangat istimewa yaitu burung merbuk. Menurut kepercayaan masyarakat, barangsiapa memakan kepala burung merbuk, maka ia akan menjadi seorang raja. Sementara orang yang memakan hati burung merbuk akan menjadi seorang menteri.

Kecantikan Sri Pandan telah dikenal di seantero negeri. Banyak para pemuda berkeinginan meminang Sri Pandan. Namun demikian, Raja Simangolong berharap Sri Pandan kelak menikah dengan pangeran negeri lain agar bisa menjalin hubungan baik dengan negeri tersebut.

Menurut legenda, dahulu kala di Sumatera Utara, hidup seorang pembuat patung bernama Datu Panggana. Ia dikenal sebagai seorang pematung handal. Hasil patung buatannya sangat halus juga nampak sangat mirip aslinya. Seperti patung hewan, tumbuhan maupun patung berbentuk manusia, hasilnya pasti akan sangat mirip aslinya. Nama Datu Panggana menjadi sangat terkenal sehingga banyak penduduk memesan patung kepadanya.

Referensi:

  1. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
  2. Adi Seta, Mahadewa. 2013. Kumpulan Dongeng Asli Nusantara. Yogyakarta: Idea World Kidz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar