Cerita Rakyat Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah terletak di bagian tengah pulau Jawa, berbatasan dengan provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Didirikan pada 15 Agustus 1950 berdasarkan UU No. 10/1950 dengan ibu kota berada di Semarang dengan semboyan Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja yang memiliki arti Berjanji akan Berusaha Keras dan Setia Terhadap Negara. Jawa Tengah memiliki 29 kabupaten, 6 kotamadya, 573 kecamatan, 769 kelurahan, dan 7.820 desa. Suku yang mendiami Provinsi Jawa Tengah yaitu Suku Jawa yang merupakan suku mayoritas. Sisanya adalah suku Kangean, Karimun, Samin, Sunda, dan Tionghoa. Bahasa yang digunakan masyarakat Suku Jawa di Provinsi Jawa Tengah adalah bahasa Jawa. Namun dalam pengucapan terdapat banyak dialek seperti dialek Banyumasan, dialek Tegal, dialek Solo, dialek Semarang, dialek Kedu, dialek Bagelan, dialek Madiun, dan dialek Yogyakarta.



Banyak cerita rakyat dari Provinsi Jawa Tengah diantaranya:

Alkisah, hidup seorang pemuda bernama Aji Saka tinggal di sebuah desa bernama Medang Kawit. Sehari-hari ia ditemani oleh pengawalnya, Dora dan Sembada. Berita kekejaman Raja Dewata Cengkar telah sampai ke telinganya. Aji Saka berencana akan pergi ke Medang Kemulan untuk membantu masyarakat yang teraniaya.

Menurut legenda, zaman dahulu ada sebuah kerajaan di Dieng yang memiliki seorang putri cantik jelita bernama Shinta Dewi. Banyak sekali para pangeran dan bangsawan ingin meminang Putri Shinta Dewi. Namun belum ada satupun berani datang untuk meminangnya.

Dewi Candra Kirana merasa sangat sedih setelah kepergian suaminya. Ia kemudian pergi meninggalkan istana untuk mencari suaminya tercinta. Dewi Candra Kirana menyamar menjadi seorang perempuan desa biasa. Di tengah pengembaraannya, ia bertemu seorang janda kaya bernama Mbok Randa Kawulusan. Mbok Randa Kawulusan telah memiliki tiga orang anak perempuan bernama Kleting Abang, Kleting Wungu dan Kleting Biru.

Setelah dewasa, Jaka Tarub tumbuh menjadi seorang pemuda yang rajin bekerja membantu ibunya. Jaka Tarub juga memiliki wajah sangat tampan. Sering ia berburu binatang di hutan menggunakan sumpitnya. Ketampanan dan ketangkasannya membuat banyak gadis-gadis desa jatuh hati padanya, namun Jaka Tarub belum berniat untuk berumah tangga. Mbok Randa Tarub sering berkata bahwa ia menginginkan Jaka Tarub segera menikah.

Mbok Sirni kemudian membelah buah mentimun sangat besar itu. Alangkah terkejutnya Mbok Sirni mengetahui bahwa di dalam mentimun terdapat seorang bayi perempuan sangat cantik jelita. Ia segera mengambilnya, memandikannya kemudian memberikannya pakaian. Mbok Sirni sangat bahagia karena keinginannya mendapatkan buah hati telah terkabul. Ia memberinya nama Timun Mas.

Alkisah, setelah ibu Bawang Putih meninggal, Bawang Merah beserta ibunya sering berkunjung ke rumah Bawang Putih. Karena sering bertemu, ayah Bawang Putih dan ibu Bawang Merah saling jatuh cinta. Mereka berdua akhirnya memutuskan menikah. Mereka kemudian tinggal satu rumah hidup berbahagia sebagai sebuah keluarga.

Konon menurut legenda Rawa Pening terbentuk karena kemarahan seorang pemuda miskin bernama Jaka Baru Klinting. Pada masa itu masyarakat tidak menyukai orang miskin karena penampilan mereka yang lusuh, dekil dan bau amis. Mereka seringkali menghina Jaka Baru Klinting karena kemiskinannya. Penduduk selalu memperlakukannya secara tidak adil.

Ki Ageng Pandanaran tidak terima. Ia merasa tersinggung dengan penolakan Sunan Kalijaga. Ia sangat marah kemudian mengusir Sunan Kalijaga. Sebelum pergi, Sunan Kalijaga berkata pada Ki Ageng Pandanaran bahwa ada cara lebih baik untuk mencari kekayaan daripada menimbun harta yang seharusnya menjadi hak rakyat.

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar