Legenda Aji Saka, Cerita Rakyat Jawa Tengah


Menurut cerita rakyat daerah Jawa Tengah, Aji Saka adalah seorang pemuda tampan lagi sakti pembela rakyat jelata dari kekejaman Raja Dewata Cengkar nan bengis. Alkisah di Jawa Tengah ada sebuah kerajaan bernama Medang Kemulan. Kerajaan Medang Kemulan dipimpin seorang raja bernama Dewata Cengkar. Raja Dewata Cengkar dikenal sebagai raja kejam. Ia juga gemar memakan daging manusia. Setiap hari sang raja kejam memerintahkan patihnya yang bernama Jugul Muda mencari manusia untuk ia dimakan. Rakyat sangat takut terhadap Raja Dewata Cengkar. Mereka akan langsung lari bersembunyi jika bertemu Patih Jugul Muda.



Alkisah, hidup seorang pemuda bernama Aji Saka tinggal di sebuah desa bernama Medang Kawit. Sehari-hari ia ditemani oleh pengawalnya, Dora & Sembada. Berita kekejaman Raja Dewata Cengkar telah sampai ke telinganya. Ia berencana akan pergi ke Medang Kemulan untuk membantu rakyat jelata.

Maka berangkatlah sang pemuda sakti ke Kerajaan Medang Kemulan, ditemani oleh dua pengawalnya, Dora & Sembada. Ketika sampai di Pegunungan Kendeng, Aji Saka menyuruh salah satu pengawalnya, Sembada, untuk tinggal disana sembari menjaga keris pusakanya.

“Sembada, kau tinggalah disini menjaga keris pusakaku. Jangan serahkan keris tersebut pada siapapun. Nanti aku akan mengambil keris tersebut. Aku beserta Dora akan melanjutkan perjalanan ke Medang Kemulan.” ia berkata pada Sembada.

“Baik, aku akan menjaga keris milik paduka. Aku berjanji tak akan menyerahkannya kepada siapapun selain paduka.” jawab Sembada.

Aji Saka Berhasil Membunuh Raja Dewata Cengkar

Saat melanjutkan perjalanan bersama Dora, tanpa sengaja mereka bertemu Patih Jugul Muda. Mereka berdua melihat Patih Jugul Muda nampak tengah kebingungan. Rupanya si patih belum berhasil mendapatkan manusia untuk diserahkan pada Raja Dewata Cengkar. Setelah bercakap-cakap sebentar, Aji Saka kemudian menawarkan dirinya untuk diserahkan pada Raja Dewata Cengkar. Mendengar permintaan itu, Jugul Muda kegirangan. Mereka segera berangkat ke istana Medang Kemulan.

Sesampainya di istana mereka segera menghadap Dewata Cengkar. Aji Saka meminta sebuah permohonan sebelum Raja memakannya. Yaitu, ia meminta agar Raja Dewata Cengkar memberinya tanah seluas sorbannya. Raja bengis langsung menyetujuinya.

“Apa permintaannmu sebelum aku mangsa?” tanya Dewata Cengkar sambil tertawa terbahak-bahak.

“Yang Mulia, aku hanya meminta tanah seluas sorbanku.” jawab Aji Saka.

Dewata Cengkar langsung menyanggupinya. Segera saja Aji Saka menggelar surbannya. Anehnya. Surban miliknya terus meluas dan meluas hingga menutupi seluruh Medang Kemulan. Dewata Cengkar sangat marah karena merasa telah ditantang.

“Kurang ajar kau anak muda! Ternyata kau ingin menantangku.” Raja Dewata Cengkar segera menyerangnya. Namun surban yang sudah meluas, menutupi tubuh Dewata Cengkar dan menggulungnya hingga hilang di pantai selatan yang berombak besar. Dewata Cengkar pun tewas seketika.

Kabar kematian Raja bengis Dewata Cengkar tersebar luas. Seluruh rakyat Medang Kemulan sangat bergembira. Rakyat Medang Kemulan kemudian mengangkat Aji Saka menjadi Raja. Aji Saka kini memerintah Kerajaan Medang Kemulan dengan arif bijaksana.

Pertarungan Dora Dan Sembada

Setelah menjadi raja, Aji Saka kemudian teringat kerisnya yang ia titipkan pada Sembada di Pegunungan Kendeng. Ia kemudian menyuruh pengawalnya Dora untuk mengambil keris pusakanya yang dipegang Dora.

Dora segera pergi ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil keris pusaka milik Raja. Sesampainya di Pegunungan Kendeng, Dora bertemu Sembada. Mereka berdua saling melepas rindu. Dora menceritakan bahwa Aji Saka telah menjadi raja Medang Kemulan. Sembada merasa senang mendengarnya. Dora kemudian mengatakan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk mengambil keris pusaka milik tuan mereka. Tapi Sembada menolaknya karena Aji Saka berpesan bahwa yang boleh mengambil keris pusaka adalah beliau sendiri. Mereka berdua akhirnya berkelahi memperebutkan keris pusaka. Pertarungan berlangsung sengit karena keduanya sama-sama sakti mandraguna. Akhirnya mereka berdua meninggal karena bertarung.

Di Medang Kemulan, Raja Aji Saka gelisah menunggu kedatangan Dora. Ia teringat pernah berpesan pada Sembada agar tidak menyerahkan keris pusakanya pada siapapun kecuali pada dirinya. Karena kuatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Aji Saka segera menyusul ke Pegunungan Kendeng. Namun terlambat, sesampainya disana, ia menemukan dua jasad pengawalnya, Dora & Sembada, terbujur kaku. Aji Saka merasa bersalah dan sangat sedih. Untuk menghormati kesetiaan kedua pegawalnya, ia kemudian menciptakan aksara jawa yang menceritakan kesetiaan dan pertarungan dua pengawalnya.

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.


  1. Bawang Merah-Bawang Putih
  2. Asal Mula Nama Kota Salatiga
  3. Timun Emas
  4. Jaka Tarub
  5. Ande Ande Lumut
  6. Legenda Kawah Sikidang
  7. Legenda Aji Saka 
  8. Legenda Rawa Pening

Tidak ada komentar:

Posting Komentar