Alkisah, pada zaman dahulu kala di tanah Jawa Tengah, berdiri dengan megahnya sebuah kerajaan bernama Jenggala. Sang Raja yang bijaksana memiliki seorang putra mahkota yang tampan nan gagah perkasa bernama Raden Putra. Sang Pangeran telah dipersuntingkan dengan seorang putri berhati lembut bernama Dewi Candra Kirana, yang terkenal seantero negeri karena kecantikannya yang bagaikan bidadari turun dari khayangan.
Sang Raja amat mendambakan agar kelak Raden Putra meneruskan singgasana takhta Kerajaan Jenggala. Namun, takdir berkata lain; Raden Putra dengan tegas menolak takdir kerajaan tersebut. Tanpa diduga, ia memilih untuk pergi meninggalkan istana megah seorang diri, tanpa membawa serta istri tercintanya, Dewi Candra Kirana.
👑 Permulaan Sang Putri yang Malang
Hati Dewi Candra Kirana hancur berkeping-keping dan diselimuti kesedihan yang mendalam setelah kepergian suami tercinta. Tak ingin tinggal diam bermandi air mata, ia pun membulatkan tekad untuk meninggalkan istana demi mencari keberadaan sang suami.
Demi keselamatan dan penyamarannya, ia menanggalkan pakaian kemegahannya dan menyamar menjadi seorang gadis desa biasa. Di tengah perjalanan pengembaraannya yang panjang, takdir mempertemukannya dengan seorang janda kaya raya yang dikenal sebagai Mbok Randa Kawulusan. Mbok Randa ini telah memiliki tiga orang anak perempuan angkuh bernama Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru.
🌸 Kehidupan Baru sebagai Kleting Kuning
Melihat gadis asing yang sebatang kara, Mbok Randa Kawulusan iba lalu mengangkat Dewi Candra Kirana menjadi anak angkatnya, dan memberinya nama baru: Kleting Kuning. Ia diperlakukan sebagai anak bungsu di rumah tersebut.
Namun, kecantikan alami Kleting Kuning justru menumbuhkan benih-benih iri dengki di hati ketiga kakak angkatnya. Mereka kerap memperlakukan Kleting Kuning dengan semena-mena dan penuh kejahatan.
Karena rasa benci yang teramat sangat, mereka memaksa Kleting Kuning mengenakan pakaian yang kumal, kotor, dan berbau tidak sedap agar ia tampak seperti pesuruh rendahan. Setiap hari, Kleting Kuning dibebani seluruh pekerjaan rumah yang berat sementara ketiga kakaknya hanya bermalas-malasan. Akibatnya, tubuh Kleting Kuning pun ikut berbau kotor karena ia tak pernah memiliki waktu untuk merawat kecantikan dirinya.
💖 Sayembara Sang Pangeran Tampan
Suatu hari, angin membawa kabar dari Desa Dadapan. Mbok Randa Dadapan dikabarkan memiliki seorang anak angkat laki-laki yang ketampanannya luar biasa dan memesona siapa saja yang memandangnya. Pemuda itu bernama Ande Ande Lumut. Ketampanan sang pemuda membuat banyak orang tua dari berbagai penjuru berbondong-bondong mendatangi Desa Dadapan demi menjodohkan putri-putri mereka.
Mendengar berita itu, Mbok Randa Kawulusan berhasrat besar agar salah satu putrinya bisa memenangkan hati Ande Ande Lumut. Ia pun memerintahkan ketiga anak kandungnya untuk pergi ke Desa Dadapan, sementara Kleting Kuning ditinggal seorang diri di rumah.
Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru berangkat dengan penuh semangat. Mereka mengenakan pakaian terindah demi memikat hati sang pangeran: Kleting Abang dengan gaun merah merona, Kleting Wungu dengan warna ungu yang elegan, dan Kleting Biru mengenakan balutan gaun biru yang menawan.
🌊 Ujian di Sungai yang Deras
Sebelum mencapai Desa Dadapan, ketiga kakak beradik itu diadang oleh sebuah rintangan besar: sungai yang sangat lebar dengan air yang begitu dalam dan deras. Di tengah kebingungan mereka, muncullah seekor kepiting raksasa sakti bernama Yuyu Kangkang.
Yuyu Kangkang menawarkan jasa untuk menyeberangkan mereka ke seberang sungai. Namun, ia mengajukan syarat yang melanggar kesucian:
“Jika kalian mau aku cium dan menciumku, aku akan membantu menyeberangkan kalian ke seberang sungai,” ucap Yuyu Kangkang licik.
Tanpa pikir panjang dan demi ambisi bertemu Ande Ande Lumut, ketiga gadis itu menyanggupi syarat memalukan tersebut. Setibanya di Desa Dadapan, mereka mendatangi Ande Ande Lumut dengan penuh harap. Namun, alangkah terkejut dan kecewanya mereka ketika sang pemuda dengan tegas menolak mentah-mentah pinangan mereka, sebab ia tahu mereka adalah gadis-gadis yang tidak mampu menjaga kehormatan diri.
🪄 Keteguhan Hati Sang Putri Sejati
Sementara itu di rumah, Kleting Kuning memohon dengan sangat kepada Mbok Randa Kawulusan agar diizinkan menyusul ke Desa Dadapan.
“Mbok, tolong izinkan hamba pergi ke desa Dadapan agar bisa menemui Ande Ande Lumut,” pinta Kleting Kuning memohon. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap pemuda itu adalah suaminya, Raden Putra.
“Apa! Kamu ingin bertemu Ande Ande Lumut? Apa kamu tidak berkaca? Pakaianmu kumal, tubuhmu bau. Ande Ande Lumut tidak mungkin mau denganmu!” cemooh Mbok Randa Kawulusan dengan nada melecehkan.
Namun karena Kleting Kuning terus mendesak, akhirnya ia diizinkan pergi dengan tetap mengenakan pakaian lamanya yang kumal dan berbau apek, karena memang ia tak punya pakaian lain lagi.
Sesampainya di tepi sungai yang besar, Kleting Kuning menghadapi kebingungan yang sama. Yuyu Kangkang pun kembali muncul menawarkan bantuan dengan syarat yang sama. Akan tetapi, dengan tegas dan penuh keberanian, Kleting Kuning menolak tawaran tersebut.
“Apa! Kamu mau dicium dan menciumku? Aku tidak sudi! Pergilah kau! Aku tidak butuh bantuanmu!” teriak Kleting Kuning penuh murka.
Seketika itu juga, Kleting Kuning mengeluarkan senjata pusaka warisannya, yaitu sebatang lidi sakti. Ia memukulkan lidi tersebut ke permukaan air sungai. Ajaib! Seketika itu pula air sungai surut seketika. Yuyu Kangkang menjerit histeris ketakutan karena tak bisa hidup tanpa air, lalu memohon ampun kepada Kleting Kuning seraya berjanji akan menyeberangkannya tanpa meminta imbalan apa pun. Kleting Kuning pun mengembalikan air sungai seperti sedia kala, dan Yuyu Kangkang menyeberangkannya dengan selamat.
🌟 Akhir Bahagia di Desa Dadapan
Tibalah Kleting Kuning di Desa Dadapan dan mendapati ketiga kakaknya sedang bersedih hati akibat penolakan Ande Ande Lumut. Namun, tatkala Ande Ande Lumut melihat kedatangan Kleting Kuning, ia justru tersenyum lebar dan bergegas menyambutnya dengan penuh kehangatan.
Mbok Randa Dadapan kebingungan bukan main.
“Kamu kenapa, Nak? Banyak wanita cantik jelita kau tolak, malah memilih wanita kumal dan bau ini?” tanya Mbok Randa keHERANan.
Dengan bijak, Ande Ande Lumut menjawab:
“Ibu, jangan menilai Kleting Kuning dari fisiknya. Ia mampu menjaga kehormatannya dengan menolak rayuan Yuyu Kangkang. Dialah calon istri terbaik bagiku.”
Mendengar ketulusan itu, Kleting Kuning sadar betul bahwa pemuda di hadapannya memang benar suaminya, Raden Putra. Di hadapan banyak orang, Kleting Kuning melepaskan penyamarannya dan menyatakan bahwa ia adalah Dewi Candra Kirana. Seketika itu pula, seluruh warga terpesona melihat kecantikan sang putri yang luar biasa.
Kegemparan semakin menjadi tatkala Ande Ande Lumut turut membuka penyamarannya; ia adalah Raden Putra, sang pangeran mahkota Kerajaan Jenggala yang selama ini dicari-cari. Akhirnya, pasangan suami istri ini kembali bersatu dalam cinta dan hidup berbahagia selamanya di istana.
Catatan Dongeng:Ande Ande Lumut adalah salah satu warisan cerita rakyat yang berasal dari daerah Jawa Tengah, yang alur kisahnya memiliki kemiripan dengan kisah kepahlawanan Raden Inu Kertapati.
Berikut adalah pesan moral yang dapat diambil dari kisah Ande Ande Lumut dan Kleting Kuning:
✨ Pesan Moral Cerita
- Menjaga Kehormatan dan Harga Diri. Kleting Kuning mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga diri dan teguh pada prinsip, meskipun dihadapkan pada situasi yang sulit atau godaan yang menjanjikan jalan pintas. Kehormatan jauh lebih berharga daripada hasil yang didapat dengan cara yang tidak baik.
- Jangan Menilai Seseorang dari Penampilan Luar. Mbok Randa Kawulusan dan ketiga anak angkatnya keliru karena hanya melihat orang dari pakaian yang indah dan rupa yang elok. Sebaliknya, Ande Ande Lumut melihat kecantikan sejati yang terpancar dari hati, kesucian, dan budi pekerti luhur Kleting Kuning.
- Buah Kesabaran dan Ketulusan. Segala ujian, kesedihan, dan perlakuan buruk yang diterima Kleting Kuning dengan sabar akhirnya membuahkan hasil yang manis. Kesetiaan dan ketulusan hatinya dalam mencari sang suami membawa kebahagiaan sejati pada akhirnya.
- Sifat Iri Dengki Membawa Kebinasaan. Perilaku buruk, kesombongan, serta sifat iri yang dimiliki oleh Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru kepada saudara mereka sendiri hanya berujung pada kekecewaan dan penyesalan.
Yuk mainkan gamenya! Ikuti perjalanan Kleting Kuning menjaga kehormatan dirinya, hingga bertemu Ande Ande Lumut.
Referensi:
- Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
- Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
.jpg)
hhh
BalasHapus