Alkisah, tersebutlah sebuah cerita turun-temurun yang disenangi anak-anak di tanah Jawa, khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dongeng ini mengisahkan asal-usul berdirinya Candi Prambanan yang megah.
Yuk, baca atau dengarkan kisahnya bersama-sama!
👑 Dua Kerajaan Tetangga yang Berdampingan
Kerajaan Prambanan dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Raja Boko. Ia memiliki seorang putri jelita bernama Roro Jonggrang. Sementara itu, Kerajaan Pengging dipimpin oleh seorang raja yang terkenal haus kekuasaan dan sangat ambisius.
⚔️ Penyerangan ke Kerajaan Prambanan
Suatu hari, sang Raja Pengging yang sombong memanggil seorang ksatria sakti mandraguna bernama Bandung Bondowoso.
"Wahai Bondowoso, pergilah ke Kerajaan Prambanan dan taklukkan negeri itu agar mau tunduk kepada kita!" perintah Raja Pengging.
"Baik, Baginda! Hamba akan segera berangkat dan berjanji membawa kemenangan," jawab Bandung Bondowoso penuh percaya diri.
Tak lama kemudian, pasukan Kerajaan Pengging menyerbu Prambanan. Karena pihak Prambanan kurang persiapan, benteng pertahanan mereka berhasil dijebol. Raja Boko gugur di medan pertempuran, dan Kerajaan Prambanan pun jatuh ke tangan Bandung Bondowoso.
✨ Lamaran yang Penuh Syarat
Setelah menguasai istana, Bandung Bondowoso melihat Roro Jonggrang dari dekat. Ia langsung terpikat oleh kecantikan sang putri dan berniat untuk memperistrinya.
"Wahai Roro Jonggrang, maukah engkau menjadi permaisuriku?" tanya Bandung Bondowoso.
Hati Roro Jonggrang hancur dan membara penuh kebencian. Bagaimana mungkin ia mau menikah dengan pria sombong yang telah merenggut nyawa ayah tercintanya? Namun, ia tidak berani menolak secara terang-terangan karena Bandung Bondowoso adalah penguasa yang sangat sakti.
Akhirnya, Roro Jonggrang menemukan sebuah akal. Ia mengajukan syarat yang amat berat: "Aku bersedia menjadi istrimu, Bandung Bondowoso. Tetapi, buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam saja!" pinta sang Putri.
Dengan senyum penuh keyakinan, Bandung Bondowoso menyanggupi, "Baiklah! Demi cintaku padamu, permintaan itu akan kuwujudkan sebelum fajar menyingsing."
🌙 Pasukan Jin dan Tipu Daya Sang Putri
Malam pun tiba. Bandung Bondowoso segera memanggil ribuan pasukan gaib dari bangsa jin untuk membantunya mendirikan seribu candi dan dua sumur ajaib dalam sekejap.
Di dalam istana, Roro Jonggrang mengintip dari balik jendela. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Waktu menunjukkan dua pertiga malam telah berlalu, dan luar biasa—hampir seluruh bangunan candi telah selesai! Hanya tersisa tiga buah candi dan satu buah sumur saja.
Dalam kepanikannya, Roro Jonggrang mendapat ide cemerlang untuk mengecoh para jin. Ia segera membangunkan dayang-dayang istana.
"Wahai para dayang, cepatlah bangun! Bakarlah jerami di sebelah timur, pukulah lesung bertalu-talu, dan taburkan wewangian bunga agar para jin mengira pagi telah tiba!" perintah Roro Jonggrang.
Seketika itu juga, langit di ufuk timur memerah karena kobaran api jerami. Suara lesung bergemuruh bertalu-talu, dan ayam jantan pun mulai berkokok bersahutan menyambut pagi palsu.
Mendengar suara-suara tersebut, pasukan jin ketakutan setengah mati. "Wahai, hari sudah pagi! Kita harus segera pergi sebelum matahari membakar kita!" seru para jin panik, lalu mereka berhamburan kabur meninggalkan pekerjaan.
🪨 Kutukan Menjadi Arca Batu
Pagi menjelang. Bandung Bondowoso terkejut bukan kepalang mendapati para jin kabur begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menyelesaikan bangunan candi yang kurang satu itu seorang diri.
Namun, matahari sudah terbit terang ketika Roro Jonggrang datang menghampiri.
"Bandung Bondowoso, engkau telah gagal! Syarat yang kuminta belum genap seribu candi. Jadi, engkau tidak berhak menikahiku," ucap Roro Jonggrang tegas.
Mendengar kata-kata itu, kemarahan Bandung Bondowoso memuncak seketika. Ia menyadari bahwa sang putri telah berbuat curang dan menipunya.
Dengan suara menggelegar penuh amarah, ia menunjuk ke arah Roro Jonggrang, "Kau curang, Roro Jonggrang! Jika kau tidak bisa menjadi istriku, jadilah kau arca batu untuk melengkapi kekurangan candi yang terakhir!"
Seketika itu juga... petir menyambar dan tubuh Roro Jonggrang perlahan mengeras berubah menjadi arca batu yang megah.
Hingga hari ini, arca sang putri yang cantik jelita masih berdiri kokoh di dalam kompleks Candi Prambanan, menjadi saksi bisu dari legenda cinta yang tak kesampaian.
🌟 Pesan Moral
Dari kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik untuk kehidupan sehari-hari, anak-anakku:
- Kejujuran adalah yang Utama: Kecurangan, tipu muslihat, atau jalan pintas untuk mencapai sesuatu tidak akan pernah membuahkan hasil yang baik dan justru bisa mendatangkan petaka di kemudian hari.
- Menepati Janji: Jika kita sudah menyanggupi atau berjanji pada sesuatu, berusahalah semampu kita untuk menepatinya dengan tulus, bukan dengan niat atau cara-cara yang curang.
- Tidak Memaksakan Kehendak: Cinta dan kepercayaan tidak bisa diperoleh dengan cara kekerasan, ancaman, ataupun paksaan. Perasaan yang tulus harus tumbuh dari hati yang ikhlas.
- Sikap Rendah Hati: Sifat sombong, serakah, dan haus kekuasaan (seperti yang dimiliki Raja Pengging dan Bandung Bondowoso) pada akhirnya hanya akan membawa penyesalan dan kerugian.
Yuk mainkan gamenya! Bantu Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam, hingga asal usul Candi Prambanan.
Referensi:
- Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
- Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar