🐒 Persahabatan yang Diuji
Kisah kera dan ayam merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Dahulu kala, di suatu daerah yang asri, hiduplah seekor Kera yang berteman dengan seekor Ayam. Namun sayang, Kera memiliki sifat yang buruk; ia sangat suka usil dan kerap kali menjahili Ayam.
Pada suatu sore yang cerah, seperti biasa si Kera mengajak Ayam berjalan-jalan untuk mengisi waktu luang.
"Ayam, ayo kita berjalan-jalan sore hari ini untuk mengusir penat," ajak Kera ramah di luar, namun menyimpan rencana usil di dalam hatinya.
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan, hai Kera," jawab Ayam dengan tulus.
Mereka berdua pun berjalan bersama menikmati indahnya sore hari. Namun, menjelang senja, perut Kera mendadak terasa sangat lapar. Di saat itulah sifat jahilnya kembali kambuh. Tanpa diduga, Kera menangkap Ayam lalu dengan tega mencabuti bulu-bulunya! Ayam merasa sangat marah dan kesakitan atas tingkah laku sahabatnya itu.
"Hai Kera, apa yang kau lakukan?! Aku ini temanmu, kenapa kau selalu usil padaku? Lepaskan aku... lepaskan!" teriak si Ayam sangat marah.
Ayam meronta-ronta berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Kera. Namun, si Kera tidak peduli; ia terus mencengkeram Ayam sambil asyik mencabuti bulu-bulunya. Dengan susah payah dan sisa tenaga yang ada, akhirnya Ayam berhasil melepaskan diri. Ayam segera lari ketakutan tanpa arah yang jelas.
Setelah berlari cukup jauh dari Kera, Ayam pergi menuju ke tepian sungai untuk menemui sahabatnya, si Kepiting. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Ayam menceritakan semua kelakuan buruk Kera.
"Sungguh keterlaluan si Kera itu, Kepiting. Ia berusaha mencabuti bulu-buluku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, mungkin ia hendak memakanku, padahal aku kan temannya sendiri," kata Ayam mengadu kepada Kepiting.
🦀 Rencana Cerdik Sang Kepiting
Kepiting sebagai sahabat setia Ayam merasa sangat marah. Ia tidak bisa menerima perlakuan sewenang-wenang dari si Kera. Kepiting berkata kepada Ayam bahwa mereka harus memberi Kera balasan agar ia jera selamanya.
"Kurang ajar nian si Kera itu. Kita harus memberinya pelajaran agar ia tidak berani berbuat semena-mena lagi," kata si Kepiting geram.
"Apa yang akan kita lakukan untuk membalas tingkah laku Kera, hai Kepiting? Apakah engkau punya gagasan?" tanya Ayam penasaran.
"Mudah saja! Kita akan mengajak si Kera rakus itu berjalan-jalan menggunakan perahu tanah liat untuk menyeberangi sungai. Kita berbagi tugas: aku akan membuat perahu dari tanah liat, sedangkan tugasmu adalah membujuk si Kera agar mau ikut bersama kita. Nanti, jika perahu sudah tiba di tengah sungai, aku akan memberi tanda berupa kata sandi agar kau melubangi perahu itu," jelas Kepiting panjang lebar.
"Baiklah, Kepiting, aku akan membujuk si Kera agar mau ikut dengan kita," kata Ayam menyetujui rencana cerdik tersebut.
🍌Bujukan Manis Menuju Sungai
Sementara si Kepiting sibuk membentuk perahu dari tanah liat, si Ayam pergi mencari Kera untuk membujuknya ikut berjalan-jalan.
"Hai Kera, engkau memang sering jahil padaku, tetapi bagaimanapun juga engkau tetap temanku. Aku bersama Kepiting hendak pergi berjalan-jalan menyeberangi sungai, marilah engkau ikut bersama kami," bujuk Ayam dengan lembut.
"Memang ada apa di seberang sungai, hai Ayam?" tanya Kera penasaran.
"Di seberang sungai ada banyak sekali pohon buah-buahan yang lebat. Engkau bisa makan sepuasnya di sana," jawab Ayam meyakinkan.
"Oh, benarkah begitu, Ayam? Baiklah kalau begitu, aku akan ikut berjalan-jalan bersama kalian!" kata si Kera girang.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, si Kera berjalan mengikuti Ayam menuju pinggir sungai, tempat di mana Kepiting telah menunggu mereka di dekat perahu tanah liat buatannya.
Akhirnya, ketiga binatang tersebut menaiki perahu tanah liat bersama-sama. Sebelumnya, Kepiting dan Ayam telah sepakat menggunakan kata sandi: jika Kepiting berkata "lubangi", maka Ayam harus segera mematuk-matuk perahu tanah liat tersebut hingga berlubang.
🌊 Akhir Perjalanan Si Kera Jahil
Setelah perahu yang mereka tumpangi berada tepat di tengah sungai yang airnya dalam dan berarus sangat deras, si Kepiting memberi isyarat kepada Ayam dengan berseru, "Lubangi!"
Ayam yang mendengar aba-aba itu langsung mengerti dan segera mematuk-matuk perahu tanah liat tersebut hingga bocor. Seketika itu juga, si Kera menyadari bahwa perahu yang mereka naiki mulai kemasukan air. Ia menjadi sangat panik luar biasa karena ternyata ia tidak bisa berenang!
"Apa yang kau lakukan, hai Ayam?! Kau ingin menenggelamkan perahu ini?! Kau kan tahu aku tidak bisa berenang!" teriak si Kera ketakutan setengah mati.
Air sungai dengan sangat cepat memasuki perahu melalui lubang yang dibuat oleh Ayam. Tak lama kemudian, perahu tanah liat itu pun tenggelam karena sudah terlalu banyak air yang masuk.
Kepiting dengan mudahnya berenang ke tepi, sementara Ayam melompat sambil mengepak-ngepakkan sayapnya dengan anggun, lalu mendarat dengan selamat di seberang sungai. Adapun si Kera yang malang, ia harus menelan akibat dari perbuatannya sendiri dan mati tenggelam bersama perahu tanah liat di tengah derasnya arus sungai.
Si Kera yang gemar menjahili temannya sendiri, keras kepala, serta tidak pernah mau mendengarkan nasihat, akhirnya kini harus mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.
✨ Pesan Moral Cerita:
- Jangan Suka Menjahili Teman: Perbuatan usil, menyakiti, atau memanfaatkan kebaikan orang lain cepat atau lambat akan mendatangkan akibat buruk bagi diri sendiri.
- Setia Kawan dan Kerja Sama: Persahabatan sejati didasari oleh rasa saling melindungi, bukan menindas. Kerja sama yang baik antara Ayam dan Kepiting menunjukkan bahwa kebaikan dan keadilan akan selalu menemukan jalannya untuk menghadapi kelaliman.
- Menghargai Nasihat dan Mengubah Diri: Sifat keras kepala dan tidak mau mendengar nasihat orang lain hanya akan membawa pada kehancuran. Jadilah pribadi yang baik, rendah hati, dan menghargai sesama teman.
Yuk mainkan gamenya! Bantu Ayam dan Kepiting memberi pelajaran pada Kera yang jahil.
Referensi:
- Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
- Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar