🌿 Awal Mula Perjalanan di Kampung Sawjatami
Dahulu kala, di sebuah sudut hijau yang tenteram di Kampung Sawjatami, Jayapura, Papua, hiduplah sepasang suami istri yang hidup rukun. Sang suami bernama Towjatuwa. Hari itu, hati Towjatuwa dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat karena sang istri tercinta tengah hamil tua dan menghadapi saat-saat persalinan yang amat sulit.
Suatu ketika, tubuh sang istri mulai menggigil hebat akibat pendarahan, sementara sang buah hati di dalam kandungan tak kunjung mau keluar. Karena dilanda panik yang luar biasa, Towjatuwa berlari sekencang-kencangnya menuju rumah seorang nenek dukun beranak yang bijak di kampungnya.
"Nenek, tolonglah... istri saya hendak melahirkan, tetapi bayinya tidak kunjung keluar. Ia sangat kesakitan, kumohon selamatkan mereka!" seru Towjatuwa dengan suara bergetar.
Nenek dukun itu menatap ramah dan berkata, "Baiklah, anak muda. Aku akan segera menyiapkan peralatan untuk membantu istrimu. Pulanglah terlebih dahulu, aku akan menyusul di belakang."
🐊 Pertemuan Ajaib di Pinggir Sungai
Setibanya di rumah, sang nenek mendapati istri Towjatuwa sudah sangat lemas. Setelah memeriksa keadaannya, nenek berkata dengan nada prihatin, "Towjatuwa, bayi di dalam kandungan istrimu berukuran terlalu besar, sehingga ia kesulitan untuk keluar."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Nek?" tanya Towjatuwa semakin gelisah.
"Untuk membantu proses persalinan ini, aku membutuhkan rumput air khusus. Carilah itu di Sungai Tami," jawab nenek dukun.
Tanpa buang waktu, Towjatuwa langsung berlari menuju Sungai Tami yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Namun, di tengah pencariannya, alangkah terkejutnya ia saat melihat seekor buaya berukuran raksasa. Aneh sekali, punggung buaya itu ditumbuhi bulu-bulu lebat menyerupai bulu burung Kasuari! Towjatuwa yang ketakutan langsung melangkah mundur hendak kabur.
"Tunggu dulu, anak muda! Jangan takut," panggil sang buaya besar dengan suara lembut.
Towjatuwa menoleh dengan tubuh gemetar. "Kaukah itu, hai buaya, yang berbicara kepadaku?"
"Benar, anak muda. Namaku Watuwe, buaya penguasa Sungai Tami. Maukah kau menolongku mengangkat batu besar yang menimpa ekorku ini?" pinta Watuwe.
Meskipun masih merasa ngeri, hati penolong Towjatuwa tergerak. Ia lantas mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyingkirkan batu berat yang menjepit ekor sang buaya. Setelah berhasil, ia bergegas ingin melanjutkan mencari rumput air.
"Tunggu, hendak ke mana kau terburu-buru begini?" tanya Watuwe.
Towjatuwa lantas menceritakan musibah yang sedang menimpa istrinya di rumah. Mendengar cerita itu, Watuwe si buaya sakti tersenyum ramah dan berjanji akan memberikan bantuan sebagai balasan atas kebaikan Towjatuwa.
"Pulanglah dengan tenang, Towjatuwa. Jangan khawatir, aku akan datang ke rumahmu malam nanti untuk membantu istrimu," janji Watuwe.
"Terima kasih banyak, Watuwe," ucap Towjatuwa penuh rasa lega, lalu lekas berlari pulang.
✨ Keajaiban di Malam Hari dan Janji Kesucian
Tepat tengah malam, buaya Watuwe menepati janjinya. Ia merayap pelan menuju rumah Towjatuwa. Di dalam rumah, sang istri tampak merintih kesakitan di atas pembaringan. Dengan menggunakan kesaktiannya, buaya Watuwe dengan lembut membantu proses persalinan tersebut. Puji syukur, tak lama kemudian, tangisan bayi menggema—seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan lahir ke dunia! Towjatuwa lantas memberi nama buah hati mereka: Narrowra.
Towjatuwa dan istrinya mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada buaya Watuwe. Sebaliknya, Watuwe juga berterima kasih atas pertolongan Towjatuwa sebelumnya, sebelum akhirnya ia berpamitan untuk kembali ke sungai.
Sebelum beranjak pergi, Watuwe berpesan kepada Towjatuwa: "Dengar baik-baik, Towjatuwa. Kelak anakmu akan tumbuh menjadi pemburu yang sangat handal. Namun ingatlah pesan ini: jangan pernah memburu atau memakan keturunanku. Jika kalian melanggar sumpah ini, keturunan kalian akan bernasib malang dan binasa satu persatu. Dan kelak, jika aku sudah mati, ambillah kantung air seniku lalu bawalah ke puncak Gunung Sankria."
Setelah berpesan demikian, buaya Watuwe menghilang ke dalam gelapnya malam.
Sejak hari istimewa itu, Towjatuwa beserta anak cucunya selalu memegang teguh janji tersebut, merawat dan menjaga kelestarian buaya-buaya di Sungai Tami hingga kini. Kisah ini pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat tentang indahnya arti tolong-menolong dan rasa balas budi yang tulus.
🌿 Pesan Moral Cerita:
- Kebaikan Akan Dibalas dengan Kebaikan: Pertolongan tulus yang diberikan Towjatuwa kepada Watuwe buaya sakti berbuah manis ketika keluarganya berada di dalam kesusahan.
- Pentingnya Tolong-Menolong: Sebagai makhluk sosial, kita harus saling membantu sesama yang sedang kesulitan, tanpa memandang perbedaan wujud atau rupa.
- Menepati Janji dan Menghormati Alam: Watuwe menepati janjinya untuk membantu, dan sebagai gantinya, manusia diingatkan untuk menjaga kelestarian alam serta sesama makhluk ciptaan Tuhan tanpa merusaknya.
Yuk mainkan gamenya! Ikuti kisah tolong-menolong Towjatuwa dan Watuwe, buaya sakti dari Sungai Tami.
Referensi:
- Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
- Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar