09 September 2014

Damar Wulan Dan Menakjingga, Jawa Timur

Damar Wulan adalah seorang pemuda sakti mandraguna. Ia berjasa membantu penguasa Kerajaan Majapahit, Ratu Ayu Kencana Wungu. Damar Wulan berhasil mengalahkan Menakjingga, seorang adipati di daerah Blambangan yang sakti mandraguna tapi berhati kejam juga sering berlaku sewenang-wenang.
Damar Wulan Dan Menakjingga, Jawa Timur 

Adipati Menakjingga Menyerang Majapahit

Tersebutlah seorang adipati Blambangan berhati kejam juga sering bertindak sewenang-wenang bernama Menakjingga. 

Ia memiliki senjata pusaka bernama Gada Wesi Kuning. 

Karena merasa dirinya memiliki kesaktian, ia sering memaksakan kehendaknya pada orang lain. 

Ia akan mengamuk membabi-buta jika keinginannya tidak dituruti.

Suatu hari Adipati Menakjingga mengirim utusan ke Kerajaan Majapahit untuk menyampaikan keinginannya mempersunting penguasa Majapahit, Ratu Ayu Kencana Wungu. 

Meskipun sudah memiliki banyak istri, tetapi Adipati Menakjingga masih berkeinginan menikahi Ratu Ayu Kencana Wungu. 

Ratu Ayu Kencana Wungu jelas menolak lamaran Adipati Menakjingga. 

Ia mengetahui kelakuan buruk Adipati Menakjingga, seorang adipati angkuh sering bertindak sesuka hatinya.

Saat utusan Adipati Menakjingga menyampaikan penolakan tersebut, Menakjingga sangat marah. 

Sifat buruknya kambuh. 

Ia segera memerintahkan pasukan Blambangan untuk menyerang Kerajaan Majapahit. 

Adipati Menakjingga sendiri menjadi pemimpin langsung penyerangan.

Ketika pasukan Menakjingga tiba di Kerajaan Majapahit. Ratu Ayu Kencana Wungu segera mengerahkan kekuatan pasukan Majapahit untuk menghadapi pasukan Blambangan. 

Perang besar pun pecah tidak terelakkan. 

Menakjingga sendiri mengamuk dalam peperangan menggunakan gada saktinya. 

Dengan sekali tebas Gada Wesi Kuningnya, ia mampu merobohkan puluhan prajurit Majapahit.

Para prajurit Majapahit akhirnya mundur karena tidak sanggup menghadapi amukan Adipati Menakjingga beserta pasukannya. 

Menghadapi masalah besar, Ratu Ayu Kencana Wungu kemudian bersemedi memohon petunjuk Dewata. 

Petunjuk pun diperoleh Sang Ratu. 

Dewata membisikkan padanya bahwa yang mampu mengalahkan Adipati Menakjingga adalah seorang pemuda bernama Damar Wulan.

Karena pasukan kedua belah pihak mengalami kehancuran, Adipati Menakjingga memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Blambangan. 

Ratu Ayu Kencana Wungu sendiri memerintahkan Patih Logender untuk mencari pemuda bernama Damar Wulan.

Bersama para prajurit pilihan, Patih Logender segera mencari pemuda bernama Damar Wulan. 

Tidak lama kemudian pemuda tersebut ditemukan. 

Ia tinggal jauh di luar kotaraja Majapahit. 

Patih Logender memintanya untuk pergi ke istana Majapahit menemui Ratu Ayu Kencana Wungu.

Setibanya di istana, Damar Wulan segera bersimpuh di hadapan Sang Ratu. “Ada apakah gerangan Gusti Prabu memanggil Hamba ke istana?”

“Wahai anak muda. Majapahit tengah menghadapi serangan dari Adipati Blambangan, Menakjingga. Menurut Dewata, hanya engkaulah yang mampu mengalahkan Menakjingga sakti mandraguna. Aku perintahkan engkau untuk melenyapkan si Adipati sombong. Jika berhasil, penggallah kepalanya lalu bawa kemari sebagai bukti.” kata Ratu Ayu Kencana Wungu.

“Baik, hamba laksanakan Gusti Prabu.” kata Damar Wulan.

Damar Wulan Mengalahkan Menakjingga

Damar Wulan kemudian pergi menuju Blambangan seorang diri. 

Sesampainya di Blambangan, ia kemudian berteriak-teriak menantang Adipati Menakjingga berduel. 

Tidak terkira kemarahan Adipati Menakjingga mendengar seorang pemuda tidak dikenal menantangnya berduel. 

Ia segera keluar untuk langsung menyerang anak muda tersebut menggunakan Gada Wesi Kuningnya. 

Setelah melewati pertarungan sengit, Damar terkapar akhirnya pingsan terkena pukulan Gada Wesi Kuning Menakjingga. 

Para prajurit Blambangan segera memenjarakan Damar di penjara Kadipaten Blambangan.

Saat di penjara, diam-diam dua istri Adipati Menakjingga mendatangi Damar Wulan. 

Mereka adalah Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. 

Mereka berdua sebenarnya sangat membenci suami mereka. 

Mereka berdua memberitahu Damar bahwa kelemahan Adipati Menakjingga adalah Gada Wesi Kuningnya. 

Mereka berjanji akan membantu Damar untuk mencuri Gada Wesi Kuning Menakjingga dengan harapan Damar mampu membunuh Adipati kejam itu.

Diam-diam, Dewi Wahita & Dewi Puyengan akhirnya berhasil mencuri Gada Wesi Kuning milik Menakjingga. 

Mereka berdua segera menyerahkannya pada Damar. 

Setelah mengucapkan terima kasih, Damar Wulan segera keluar dari penjara untuk kembali menantang Adipati Menakjingga.

Adipati Menakjingga keheranan melihat Damar Wulan berhasil meloloskan diri dari penjara. 

Ia juga terkejut melihat Damar menenteng senjata Gada Wesi Kuning miliknya. 

Tidak menunggu lama, Damar Wulan segera menyerang Adipati menakjingga menggunakan Gada Wesi Kuningnya. 

Menakjingga mampu menghindari serangan tersebut, kemudian langsung melakukan serangan balasan. 

Namun lambat laun, Menakjingga nampak kelelahan, hingga akhirnya sebuah hantaman Gada Wesi Kuning membuatnya jatuh terkapar. 

Tidak lama kemudian Ia pun tewas. 

Teringat pesan Ratu Ayu Kencana Wungu, Damar kemudian memenggal kepala Menakjingga untuk ia jadikan bukti. 

Damar Wulan kemudian pulang ke Majapahit.

Damar Wulan Diserang Layang Seta dan Layang Kumitir

Tanpa disadari oleh Damar Wulan, ia ternyata selama ini diikuti oleh dua anak Patih Logender bernama Layang Seta & Layang Kumitir. 

Mengetahui keberhasilan Damar membunuh Menakjingga, mereka berniat merebut kepala Menakjingga dengan harapan mendapat hadiah dari Ratu Ayu Kencana Wungu. 

Saat perjalanan pulang ke Majapahit, mereka tiba-tiba saja menyerang Damar. 

Terjadilah pertarungan sengit dua orang melawan satu orang. 

Setelah sekian lama bertarung, mereka berdua akhirnya berhasil merebut kepala Menakjingga dari Damar. 

Keduanya segera bergegas pergi meninggalkan Damar Wulan.

Setibanya di istana Majapahit, Layang Seta & Layang Kumitir segera menyerahkan kepala Menakjingga pada Ratu Ayu Kencana Wungu. 

Mereka mengatakan bahwa mereka telah membunuh Adipati Menakjingga.

Tidak lama kemudian datanglah Damar. 

Ia mengatakan pada Ratu Ayu Kencana Wungu bahwa ia telah berhasil memenggal kepala Menakjingga, tapi di tengah jalan kepala Menakjingga dirampas oleh Layang Seta & Layang Kumitir.

Ratu Ayu berusaha menengahi perselisihan diantara mereka. 

“Untuk membuktikan pengakuan diantara kalian siapakah yang benar, selesaikanlah secara jantan. Bertarunglah kalian. Siapa menang maka dia benar-benar telah membunuh Adipati Menakjingga.” kata Ratu Ayu kencana Wungu.

Akhirnya diadakanlah pertarungan antara Damar Wulan melawan kakak beradik Layang Seta & Layang Kumitir di alun-alun istana. 

Setelah sekian lama bertarung, Layang Seta & Layang Kumitir nampak kewalahan. 

Damar kali ini benar-benar menjukkan kesaktiannya. 

Akhirnya kakak beradik Layang Seta & Layang Kumitir mengaku kalah. 

Mereka juga akhirnya mau mengakui bahwa Damar Wulan telah membunuh Adipati Menakjingga. 

Mereka juga memohon ampun pada Ratu Ayu karena telah berani membohonginya.

Damar Wulan Menikah Dengan Ratu Ayu Kencana Wungu

Mendengar pengakuan tersebut, Ratu Ayu Kencana Wungu segera memerintahkan para prajuritnya untuk menangkap dan memenjarakan Layang Seta & Layang Kumitir. 

Ratu sangat marah juga tersinggung karena mereka berdua berani membohonginya. 

Sedangkan untuk Damar, Ratu Ayu Kencana Wungu memberikan hadiah dengan mempersilahkan Damar Wulan menikahinya. 

Tidak lama kemudian dilangsungkan pernikahan besar-besaran antara Ratu Ayu Kencana Wungu dengan Damar Wulan. 

Rakyat Majapahit menyambut gembira pernikahan ini. 

Karena Damar Wulan adalah pemuda sakti mandraguna yang berjasa besar bagi Kerajaan Majapahit. 

Legenda Damar Wulan dan Menakjingga merupakan cerita rakyat daerah Jawa Timur.

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar