.jpg)
Alkisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri nan permai, hiduplah seorang Raja Muda yang bijaksana bersama istri tercintanya, Putri Gani. Istana mereka begitu megah, dikelilingi oleh halaman yang sangat luas dan dihiasi oleh taman bunga yang tertata sangat rapi. Di hadapan istana itu, terbentanglah sebuah batu besar berwarna kuning gading yang permukaannya sangat datar, yang kemudian dinamakan oleh rakyat sebagai Batu Amparan Gading.
Raja Muda paling suka menghabiskan waktu santainya bersama keluarga tercinta dengan duduk-duduk di atas batu yang istimewa itu.
👑 Permaisuri yang Telah Pergi
Waktu terus bergulir, namun kebahagiaan itu diuji oleh takdir. Pada suatu hari, Putri Gani jatuh sakit yang amat parah hingga akhirnya beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan berpulang untuk selama-lamanya.
Hati Sang Raja Muda hancur berkeping-keping karena kesedihan yang mendalam. Terlebih lagi, kedua buah hati mereka masih sangat kecil dan amat membutuhkan kehangatan serta belaian kasih sayang seorang ibu. Dengan berat hati dan demi masa depan anak-anaknya, Sang Raja Muda akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang putri dari negeri Hulu Sungai.
🪞 Wajah Baru di Istana
Pada awal kedatangannya, istri baru Raja Muda itu tampak sangat baik dan amat menyayangi suami serta kedua anak tirinya. Sayangnya, kebaikan itu tidak bertahan lama.
Tingkah laku kedua anak tiri yang sangat aktif dan riang lambat laun membuat sang ibu tiri merasa terganggu dan kesal. Ketika Sang Raja Muda sedang pergi menjalankan tugas kerajaan, ia kerap memarahi kedua anak malang itu. Bahkan, ia tega membiarkan mereka kelaparan. Perlakuan buruk ini justru membuat kedua anak tersebut semakin sedih dan tertekan.
🍃 Petualangan Kecil Mencari Makanan
Suatu hari, perut kedua anak Raja Muda terasa sangat perih karena seharian belum diberi makan oleh ibu tiri mereka. Untuk mengusir rasa lapar, mereka pergi ke halaman istana dan bermain di atas Batu Amparan Gading. Karena sudah tidak tahan menahan lapar, sang kakak berkata kepada adiknya, “Adikku sayang, tunggulah di sini sebentar ya. Kakak akan pergi mencari sedikit makanan.”
“Baiklah, Kak. Aku akan menunggu di sini,” jawab adiknya dengan patuh.
Kakak yang malang itu pun berjalan seorang diri sambil membawa seruas bumbung bambu kecil. Ia melangkah hingga tiba di tempat orang-orang sedang menumbuk padi.
“Wahai Ibu yang baik, bolehkah saya meminta sedikit serpihan beras untuk makanan ayam saya?” tanyanya dengan sopan. “Ambillah, Nak,” jawab ibu penumbuk padi dengan ramah.
Anak itu memasukkan sedikit serpihan padi ke dalam bumbungnya. Di tengah perjalanan pulangnya, ia melihat seekor bengkarung dan menangkapnya untuk dijadikan teman bermain adiknya. Ia juga memungut bunga-bunga dadap merah yang berguguran di tanah agar adiknya merasa senang. Setelah itu, ia segera kembali ke Batu Amparan Gading.
Namun, malang tak dapat ditolak. Saat mereka sedang asyik bermain, ibu tiri mereka pulang ke istana. Melihat remah-remah dan bekas permainan berserakan di atas batu, sang ibu tiri langsung diliputi amarah yang membara.
Ia salah sangka; biji puar disangkanya nasi, bunga dadap merah disangkanya kulit udang, dan sisik bengkarung disangkanya sisik ikan. Tanpa mendengarkan penjelasan, ia langsung menuduh kedua anak tirinya telah mencuri makanan dari lemari istana.
Dengan kejam, ia memarahi dan memukuli kedua anak malang itu habis-habisan. Meskipun mereka menjerit dan menangis pilu meminta ampun, ia sama sekali tidak peduli. Setelah puas melampiaskan amarahnya, ia melenggang masuk ke dalam istana, meninggalkan kedua anak tirinya yang kesakitan hingga akhirnya tertidur pulas di atas batu dalam dekapan lelah dan air mata.
✨ Keajaiban Batu Amparan Gading
Beberapa saat kemudian, sang kakak terbangun dari tidurnya. Pemandangan sang adik yang masih tertidur pulas dengan sisa air mata di pipinya membuat hatinya kembali hancur. Ia merindukan kehangatan ibunya yang telah tiada dan merasa sangat tersiksa oleh kekejaman ibu tiri.
Dengan air mata yang terus berlinang, ia meratap sedih sambil melantunkan sebuah puisi ajaib:
Entak-entak bumbung seruas
Meninggilah Batu Amparan Gading
Mak dan Bapak buruk makan
Kami hendak pulang ke pintu langit
Puar nasi disangka nasi
Bunga dadap disangka udang
Sisik bengkarung disangka ikan
Kami dituduh maling makan
Ajaib! Atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa, batu yang mereka duduki tiba-tiba mulai bergerak naik ke atas. Merasa takjub, sang kakak mencoba mengucapkan puisi itu sekali lagi. Batu itu pun semakin meninggi, menembus angkasa.
Sementara itu, Sang Raja Muda baru saja kembali dari perjalanannya. Alangkah terkejutnya beliau mendapati Batu Amparan Gading di halaman istana kini telah menjulang tinggi, bahkan melebihi puncak bubungan istana! Lebih-lebih lagi ketika ia melihat kedua buah hatinya berada di atas sana.
Raja Muda menjadi sangat cemas dan ketakutan kalau-kalau anak tercintanya terjatuh. Ia segera membunyikan kentongan bertalu-talu untuk memanggil seluruh orang istana agar datang membantu.
Segala upaya pun dikerahkan. Ada yang mencoba menghancurkan bagian bawah batu dengan pemukul keras, ada yang mendorongnya sekuat tenaga, bahkan ada yang mencoba memanjatnya. Namun, semua usaha itu sia-sia belaka. Batu Amparan Gading terus berdiri kokoh dan semakin meninggi hingga akhirnya semua orang menyerah dalam kebisuan.
☁️ Menuju Pintu Langit
Sang Raja hanya bisa terduduk lemas, meratapi nasib dan bertanya-tanya dalam hati kesalahan apa gerangan yang telah ia perbuat. Sementara itu, kedua anaknya sudah semakin tinggi hingga tidak terlihat lagi dari bumi.
Akhirnya, sampailah kedua kakak beradik itu di pintu langit. Sayang sekali, pintu gerbang langit saat itu sedang tertutup rapat. Dengan susah payah mereka mencoba membukanya, namun tenaga mereka terlalu kecil.
Untunglah, tak lama kemudian seekor burung garuda yang perkasa terbang melintas di hadapan mereka. Kedua anak raja itu segera meminta pertolongan dengan menawarkan imbalan sebumbung melukut. Burung garuda yang baik hati itu pun menyetujuinya.
Dengan paruhnya yang tajam, burung garuda mematuk pintu langit hingga terbuka lebar. Kedua kakak beradik itu pun melangkah masuk, mendapati suasana di sana begitu indah, damai, dan tenteram selamanya.
Seketika itu pula, atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, Batu Amparan Gading perlahan-lahan merendah dan kembali ke wujud asalnya seperti sedia kala. Tinggallah Sang Raja Muda di bumi bersama istri mudanya, ditemani oleh Batu Amparan Gading yang menjadi saksi bisu atas perangai buruk sang permaisuri baru.
📚 Catatan dan Referensi
Batu Amparan Gading adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Bengkulu Selatan, yang kerap dituturkan oleh para orang tua sebagai dongeng pengantar tidur yang penuh dengan pesan moral.
✨ Pesan Moral dari Kisah Batu Amparan Gading
- Kasih Sayang Orang Tua Itu Sepenuh Hati. Seorang ibu atau orang tua sambung seharusnya menyayangi anak-anak dengan tulus, bukan membeda-bedakan atau berlaku kasar. Kekerasan dan pilih kasih hanya akan meninggalkan luka mendalam bagi anak-anak yang belum memahami kerasnya dunia.
- Ketulusan Hati dan Kesabaran Berbuah Kemenangan. Meskipun menghadapi cobaan yang sangat berat, kelaparan, dan perlakuan tidak adil dari ibu tiri, kedua kakak beradik tersebut tetap sabar dan saling menjaga. Kesabaran serta kebaikan hati mereka akhirnya mengantarkan mereka pada perlindungan dan tempat yang penuh kedamaian di pintu langit.
- Pentingnya Keadilan dan Mendengarkan Penjelasan. Bagi seorang pemimpin atau orang tua, sangat penting untuk tidak mudah menuduh atau percaya pada prasangka tanpa mendengarkan kebenarannya terlebih dahulu. Keputusan yang diambil tanpa keadilan dapat membawa penyesalan yang mendalam.
- Kejahatan Pasti Akan Terlihat. Segala perbuatan buruk, kecurangan, dan kekejaman yang disembunyikan pada akhirnya akan terungkap dan meninggalkan penyesalan. Seperti Batu Amparan Gading yang menjadi saksi bisu, keburukan pekerti tidak akan bisa selamanya ditutupi.
Yuk, rasakan sendiri serunya kisah Batu Amparan Gading lewat game interaktif ini! Bantu kedua anak Raja Muda mencari makanan, bertahan dari amarah ibu tiri, hingga melantunkan puisi ajaib yang membuat batu ini semakin tinggi. Lengkap dengan narasi suara dan pilihan bahasa Indonesia/Inggris.
Referensi:
- Prahana, Naim Emel. 1988. Cerita Rakyat Dari Bengkulu 2, Jakarta: Grasindo
- Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
- Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
saya suka
BalasHapusTerima kasih telah berkunjung :)
Hapus