Pada zaman dahulu kala, di Kerajaan Goguryeo, Korea, yang indah, hiduplah seorang pemuda bernama Ondal. Ondal tinggal di sebuah gubuk sederhana bersama ibunya yang sudah tua. Hidup mereka sangat miskin, namun Ondal adalah anak yang sangat berbakti dan amat menyayangi ibunya.
Nyanyian tawa dan olokan para tetangga terdengar saban hari. Demi mendapatkan sedikit makanan untuk sang ibu tercinta, Ondal tidak pernah malu melakukan hal-hal lucu.
"Hei Ondal! Coba tirukan bagaimana monyet berjalan!" seru seorang tetangga.
"Baiklah...!" sahut Ondal dengan senyum ceria. Ia pun melompat-lompat menirukan gaya monyet.
"Ondal, coba tiru suara harimau yang galak!" panggil tetangga lainnya.
“Auumm...!” Ondal mengaum sekuat tenaga.
Semua orang tertawa terpingkal-pingkal. Sebagai imbalannya, mereka memberikan sedikit makanan atau uang kepada Ondal. Bagi Ondal, ejekan orang lain tidaklah penting. Yang paling utama adalah ia bisa membawa pulang makanan dan melihat ibunya tersenyum bahagia. Kebahagiaan ibu adalah kebahagiaan terbesar bagi Ondal.
Sementara itu di dalam istana yang megah, Sang Raja sedang pusing kepala. Putrinya, Putri Pyeongkang, adalah seorang gadis yang cantik, cerdas, dan berhati mulia, tetapi sangat cengeng! Sedikit saja merasa kesal, sang putri akan menangis tersedu-sedu di depan banyak orang.
Setiap kali sang putri menangis tanpa henti, Raja selalu berseru untuk menakut-nakutinya, "Sudahlah, Putriku! Jangan menangis terus! Kalau kamu tidak mau berhenti, nanti Ayah nikahkan kamu dengan Si Bodoh Ondal!"
Tentu saja Sang Raja hanya bergurau agar putrinya berhenti menangis.
Tahun demi tahun berlalu. Putri Pyeongkang tumbuh menjadi gadis dewasa yang anggun. Suatu hari, Sang Raja berkata, "Anakku, kini kamu sudah dewasa. Ayah telah memilihkan seorang pangeran gagah dari negeri seberang untuk menjadi suamimu."
Namun, Putri Pyeongkang menggelengkan kepalanya. "Mohon maaf, Ayahanda. Saya tidak mau menikah dengan pangeran itu."
"Mengapa kamu tidak mau?" tanya Raja heran.
Putri Pyeongkang menjawab dengan jujur, "Dahulu Ayah sering berkata akan menikahkan saya dengan Ondal. Seorang Raja tidak boleh mengingkari ucapannya. Maka, saya hanya ingin menikah dengan Ondal!"
Sang Raja kaget dan sangat marah! Beliau tidak bisa membayangkan putri kesayangannya menikah dengan pemuda miskin yang sering dipanggil bodoh. Karena Sang Putri tetap teguh pada pendiriannya, Raja yang gelap mata akhirnya mengusir Putri Pyeongkang dari istana.
Dengan hati yang tabah, Putri Pyeongkang melangkah keluar dari istana. Ia hanya membawa sedikit perhiasan dan beberapa helai kain sutra. Langkah kakinya membawanya pergi menuju desa tempat tinggal Ondal.
Ketika Putri Pyeongkang tiba di gubuk sederhana milik Ondal, Ondal dan ibunya sangat terkejut dan hampir tidak percaya. Namun, dengan penuh kehangatan, mereka menyambut Sang Putri untuk tinggal bersama.
Putri Pyeongkang lalu menjual perhiasan serta kain sutranya. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Sang Putri mulai mengajari Ondal membaca, menulis, berhitung, hingga ilmu ketangkasan. Ondal yang tekun pun belajar dengan sungguh-sungguh hingga mereka menjadi sahabat yang sangat erat.
Suatu hari, Kerajaan Goguryeo diserang oleh pasukan musuh yang sangat kuat. Suasana menjadi mencekam dan Sang Raja sangat cemas memikirkan keselamatan rakyatnya. Beliau juga teringat dan merindukan Putri Pyeongkang yang telah diusirnya.
Di tengah pertempuran yang sengit, muncul seorang pemuda gagah berani yang menunggang kuda dengan sangat terampil. Pemuda misterius itu memimpin pasukan dengan cerdik hingga berhasil mengusir seluruh musuh dan meraih kemenangan besar!
Sang Raja sangat kagum dan ingin berterima kasih secara langsung kepada pahlawan penyelemat kerajaan tersebut. Namun, betapa terkejutnya Sang Raja ketika pahlawan itu membuka penutup mukanya—ternyata ia adalah Ondal!
Sang Raja merasa sangat malu atas prasangkanya selama ini. Pemuda yang dahulu dianggap bodoh dan dihina, kini tumbuh menjadi pahlawan yang sangat cerdas dan gagah berani berkat bimbingan serta ketekunannya.
Dengan bangga dan penuh rasa syukur, Sang Raja merestui pernikahan Putri Pyeongkang dan Ondal, serta mengangkat Ondal menjadi Panglima Tertinggi Kerajaan. Mereka semua akhirnya hidup rukun, damai, dan bahagia selamanya.
✨ Pesan Moral Dongeng:
Tidak ada orang yang benar-benar bodoh di dunia ini. Seseorang bisa menjadi pintar dan mahir apabila ia mau belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Selain itu, jangan pernah meremehkan orang lain, karena setiap orang memiliki potensi hebat yang mungkin belum terlihat!
Yuk, mainkan kisah Si Bodoh Ondal secara interaktif! Bantu Ondal menghibur ibunya, dampingi Putri Pyeongkang belajar bersabar, hingga temukan kejutan sang raja di medan perang. Cukup ketuk, tekan-tahan, dan seret elemen di layar untuk mengikuti jalan cerita — lengkap dengan narasi suara (bisa dibisukan) dan pilihan bahasa Indonesia/Inggris.
Referensi:
- Damayanti, Astri. 2014. Dongeng Klasik 5 Benua. Jakarta: Penerbit Bestari Buana Murni.
- Aqila, Swada. 2015. Kumpulan Dongeng Dunia: Seri Kerajaan. Jakarta: WahyuMedia.
- Banta, Shaff. 2013. Dongeng Anak Dunia. Jakarta: WahyuMedia.
- Belle, Maureen May & Hans Jalarada. 2018. 30 Dongeng Dunia. Jakarta: Elex Media Computindo.
Cerita Rakyat Korea lainnya:
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar